bank bjb


Positivity Rate Covid-19 Surabaya Naik, Lampaui Standar WHO

  Selasa, 15 Juni 2021   Nur Khansa Ranawati
Ilustrasi pengetesan Covid-19 (Ayobandung.com)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Penyebaran kasus Covid-19 di Kota Surabaya masih terus mengalami peningkatan. Hal ini salah satunya dapat dilihat dari kenaikan angka persen positif atau positivity rate. 

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengungkapkan, angka positivity rate Covid-19 di Kota Surabaya naik dari lima menjadi sembilan persen. Eri mengingatkan, kenaikkan angka positivity rate tersebut selayaknya menjadi peringatan bagi semua elemen masyarakat. Yakni untuk lebih meningkatkan kewaspadaan dan turut serta memutus penyebaran Covid-19.

“Ketika ada kenaikan dari lima persen ke sembilan persen secara total Surabaya, maka berarti ini alarm dan warning buat kita. Sedikit kita lengah, cepat ini berangkatnya (kasus Covid-19). Berarti kita harus hati-hati, saya harus warning betul, kita harus tetap menjaga protokol kesehatan,” kata Eri di Surabaya, sebagaimana dilansir dari Republika, Selasa 15 Juni 2021. 

Melihat angka positivity rate yang mengalami kenaikkan, Eri mengaku terus bergerak untuk mengantisipasinya. Salah satunya dengan memassifkan kembali tes swab dengan menerjunkan Tim Swab Hunter. Eri mengaku telah menjalin kesepakatan dengan Kapolrestabes Surabaya, Kapolres Pelabuhan Tanjung Perak, dan Danrem untuk memasifkan kembali tes swab massal ini.

“Makanya, nanti tidak hanya di pasar-pasar saja, mal-mal yang juga ada kerumunan kita akan lakukan tes juga. Bahkan, semua tempat yang ada kerumunannya, termasuk di warung-warung kita akan tes. Dengan begitu, harapan kami warga bisa semakin taat Prokes, sehingga Covid-19 di Surabaya bisa ditekan,” ujarnya.

Lampaui Standar WHO

Positivity rate adalah salah satu hal yang menjadi tolak ukur terkontrolnya penyebaran kasus Covid-19 di suatu daerah. Angkanya didapat dari jumlah sampel positif dari sebuah pengetesan, dibagi jumlah tes yang dilakukan, dan dikali 100.

Bila merujuk pada penjelasan yang dipaparkan John Hopkins Bloomberg School of Public Health melalui laman web-nya, positivity rate menjadi rujukan untuk mengetahui seberapa tinggi level transmisi lokal kasus Covid-19 di suatu daerah. Juga menjadi tolak ukur kesesuaian jumlah pengetesan Covid-19, apakah sudah memadai atau belum.

"Persentase-nya akan tinggi apabila jumlah kasus positif dari sebuah pengetesan terlalu tinggi, atau bila total jumlah pengetesan yang dilakukan masih terlalu rendah," tulis keterangan kampus Johns Hopkins dalam laman web jhsph.edu.

Persentase yang tinggi, tulis keterangan tersebut, mengindikasikan bahwa ada transmisi penularan yang tinggi di daerah yang bersangkutan dan atau masih banyak orang dalam lingkungan tersebut yang belum terjamah tes Covid-19.

WHO menentukan batas maksimal positivity rate adalah 5%. Bila melampaui angka tersebut, kasus Covid-19 di suatu daerah tidak bisa disebut terkendali.

Pada Mei 2020, WHO meminta sebuah daerah untuk menjaga positivity rate mereka berada di bawah 5% setidaknya selama dua minggu berturut-turut sebelum pemerintah melakukan relaksasi kegiatan warga.

Terapkan Jam Malam

Guna mencegah penyebaran Covid-19 semakin meluas, Eri juga menyinggung terkait penerapan jam malam di Surabaya. Eri mengatakan, berdasarkan keputusan bersama dengan Kapolres dan Danrem, PPKM Mikro dan juga jam malam harus tetap dijalankan. 

“Ketika Pak Kapolres dan Bu Kapolres serta Danrem memberikan arahan tidak boleh (aktivitas jam malam), ya kami di pemkot juga mengatakan tidak boleh, karena kita tetap satu suara. Kami menjadi satu bagian yang tidak bisa dipisahkan,” kata dia.

Eri meminta warga Surabaya untuk terus menjaga protokol kesehatan. Ia juga meminta untuk tidak meremehkan Covid-19 ini meskipun sudah selesai divaksin. “Saya juga minta tolong kepada teman-teman (media) untuk selalu mengingatkan dan menginformasikan supaya warga selalu menjaga Prokes,” kata dia.

Staf Khusus Rumpun Kuratif Satgas Covid-19 Jatim dr Makhyan Jibril Al Farabi membenarkan adanya temuan tiga warga yang terjangkit Covid-19 B16172 Delta strain India. Jibril mengungkapkan, ketiga warga tersebut diketahui terpapar Covid-19 setelah terjaring penyekatan di Jembatan Suramadu.  "Inggih benar (ada tiga pasien), domisilinya dua di Bangkalan dan satu Bojonegoro, kesemuanya didapatkan dari penyekatan," ujarnya.

Jibril menjelaskan, untuk dua pasien yang berdomisili di Bangkalan, saat ini dirawat di Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI), Surabaya. Sedangkan satu pasien sisanya dirawat di Rumah Sakit Bojonegoro. "Kalau yang di RS Lapangan gejalanya ringan, kalau yang di Bojonegoro sedang," kata dia.

Setelah adanya temuan tersebut, kata Jibril, Pemprov Jatim akan terus berkolaborasi dengan Pemkot Surabaya dan Polda Jatim agar bisa terus melakukan penyekatan di Jembatan Suramadu. Dalam penyekatan yang berlangsung sejak 5 Juni lalu, telah ada 31.578 orang yang diswab antigen. "Dengan hasil 668 positif antigen, dengan hasil akhir 362 kasus dengan hasil swab PCR positif," ujarnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar

_atrk_opts = { atrk_acct:"XGeit1zDGU20kU", domain:"ayosurabaya.com", dynamic: true}; (function() { var as = document.createElement('script'); as.type = 'text/javascript'; as.async = true; as.src = "https://certify-js.alexametrics.com/atrk.js"; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(as, s); })();