bank bjb


Setigi, Wisata Anyar Bekas Batu Kapur dan Tempat Pembuangan Sampah

  Selasa, 15 Juni 2021   Praditya Fauzi Rahman
Bukit Kapur Sekapuk dilihat dari depan rumah adat wisata Setigi. (WisataSetigi)

GRESIK, AYOSURABAYA.COM -- Obyek wisata Selo Tirto Giri atau Setigi kini menjadi buah bibir di kalangan wisatawan di Jawa Timur.

Di lokasi wisata ini terdapat beragam tempat wisata khusus bagi keluarga, mulai dari danau, air terjun, hingga wisata kuliner dengan latar belakang perbukitan kapur yang menjulang tinggi sekitar 15 meter. Ketika petang, wisata tersebut terlihat elok.

Kepala Desa Sekapuk, Abdul Halim, mengatakan wisata itu terbilang anyar. Sebab, dulunya adalah bekas penambangan kapur dan tempat pembuangan sampah (TPS).

"Dulunya celukan-celukan (cekungan) bekas tambang, kita desain untuk dijadikan danau buatan. Karena, dari unsur nama saja Selo Tirto Giri, ada unsur batu, bukit, dan air, kami singkat Setigi," kata Halim kepada AyoSurabaya.com di lokasi, Senin (14/6/2021).

PESERTA GELOMBANG 17 yang Akan Dicabut Panitia dan Masuk Daftar Hitam

Halim mengaku cukup bangga lantaran jerih payahnya mengubah tambang kapur menjadi wisata bisa terealisasi dan bermanfaat bagi masyarakat. Mengingat, daerah sekitar Desa Sekapuk terkenal dengan batu kapur. 

Mulanya, ada beberapa titik penambangan batu kapur di kawasan Gresik. Sebelum dibentuk dan beroperasi seperti saat ini, Setigi merupakan tambang batu kapur dengan kedalaman yang cukup 'jeru' (dalam), antara jalan yang dipijak dengan kedalaman penambangan. Hal tersebut dirasa warga sekitar kian mengkhawatirkan lantaran membahayakan pemukiman sekitar. 

Bekas Lahan Pembuangan Sampah

Pada tahun 2003, peruntukan sudah tidak di tambang lagi oleh warga, melainkan dijadikan pembuangan sampah. Lambat laun, penduduk kian bertambah, bahkan terbentuk beberapa yayasan, pesantren, hingga pasar di Desa Sekapuk. Otomatis, potensi pembuangan sampah kian bertambah dan membeludak. 

"Di sini persisnya, area danau dan kolam Banyu Gentong itu pusat sampah, pintu masuk itu ada jalan yang tidak seberapa luas, longsoran sampah itu akhirnya menutup jalan, lebar jalan hanya selebar sepeda motor, karena waktu itu orang makin asyik membuang," ujarnya.

Berangkat dari hal tersebut, Halim yang kala itu masih bekerja sebagai pedagang burung berinisiatif untuk mengubah wajah lokasi tersebut. Ia merasa iba dengan warga sekitar TPS yang selalu berjibaku dengan sampah yang berserakan. Terlebih, ketika musim hujan tiba dan mengakibatkan aroma tak sedap serta aneka penyakit baru menghantui. 

"Kalau dulu sampah ketebalan 12 sampai 14 meter, tinggi dan besar sekali. Sekarang sudah kita modifikasi menjadi air terjun dan danau buatan," tuturnya.

Pada Maret 2018, Halim berinisiatif membersihkan sejumlah sampah yang ada. Saat itu, ia baru 2 pekan menjabat sebagai Kepala Desa Sekapuk periode pertama. "Baru jadi kepala desa, saya dilantik 12 Desember 2017. 2 minggu setelah menjabat, di 100 harinya membenahi lingkungan dan administrasi di desa, lalu membenahi sampah kurang lebih 9 sampai 10 bulan, baru bisa bersih," katanya.

Usai pembersihan sampah, pada Januari 2019, masyarakat bergotong royong memulai pembangunan. Halim menjadi orang pertama yang meletakkan batu pertama saat membangun danau buatan. Setahun pembangunan, tanggal 1 Januari 2020, Setigi mulai dilaunching dan dibuka untuk umum.

Namun sayang, saat itu hanya dibuka seumur jagung. Sebab, Pandemi Covid-19 terlebih dulu melanda. Mau tak mau, mereka harus menghentikan operasional wisata dan melarang pengunjung datang.

Omzet Hingga Rp5 Miliar

3 bulan pasca pagebluk kala itu, Halim dan warga mulai membangkitkan perekonomian dengan membuka kembali wisata Setigi. Saat itu warga langsung membentuk Satuan Petugas (Satgas) Mandiri Covid-19 dengan menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat kepada setiap pengunjung.

"Setelah 3 bulan tutup karena pandemi, lalu buka lagi dengan tema wisata tangguh, setelah PSBB kita buka dan alhamdulillah hasilnya luar biasa," ujar dia.

Dalam 1 tahun, Setigi memperoleh omset hingga Rp 5,2 miliar di tahun 2020. Kendati sempat terhambat 3 bukan libur karena pagebluk. 

Apabila tak ada pandemi Covid-19, Halim optimis mampu meraup omset hingga Rp 7 miliar dalam setahun. Meski begitu, Halim mengaku cukup senang lantaran omset selama pagebluk melebihi targetnya.

"Itu (omset selama pandemi) saya rasa wajar saja, angka itu sangat kecil karena wisata ini 5 hektar dengan 60 lebih karyawan. Dengan pemasukan Rp 7 miliar dan kapasitas orang 5000, sekarang cuma dibatasi 2000 orang saja yang bisa masuk karena Covid-19, meskipun toh disini tidak ada ruang tertutup, tapi tetap kita batasi terkait dengan kerumunan," tutur dia.

Pria berusia 39 tahun itu menilai, wisata Setigi berbeda dengan wisata lain. Sebab, memiliki kontur tanah yang berbeda. Misalnya, pengunjung memiliki privasi, pemandangan, dan 'vibes' sendiri saat bersama keluarga. Seperti saat berada di area parkiran, tidak kelihatan dari area danau. Lalu, di area danau tidak terlihat dari pasar kuliner lantaran bentuk dasar lokasi berasal dari celukan-celukan bekas tambang kala itu.

Sementara itu, salah seorang pengunjung Setigi, yakni Ninta Shoheh (40) mengaku senang sempat mengunjungi wisata anyar di Kabupaten Gresik itu. Ia mengaku tertarik datang ke sana usai melihat informasi melalui media sosial dan rekomendasi sejumlah rekannya di kota pahlawan.

"Saya kan asal Berau, Kalimatan Timur, saya kesini setelah mampir ke rumah teman di Surabaya. Pas datang kesan pertama itu bisa secantik ini ya, dan ternyata ada objek wisata yang bagus di Gresik," kata Ninta kepada AyoSurabaya.com.

Ninta mengungkapkan, dengan harga tiket senilai Rp 15.000 dan parkir Rp 10.000 relatif murah. Selain itu, suguhan kuliner oleh pedagang yang khas dengan bahan baku dari Gresik membuatnya kian terpukau.

"Harga tiket Rp 15.000 itu wajar, relatif, pokoknya semua sesuai lah, dengan kita kesini yang kita dapetin sesuai, melebihi ekspektasi dan wow, bagus ya. Prokesnya dari awal masuk sesuai sih, ada petugas satgas mandiri yang mengingatkan, ini kebetulan lagi dirumah teman sekalian mampir," tutur dia.

Ninta menyarankan, pengelola untuk menambah penerangan di setiap sudut persimpangan. Menurutnya, hanya hal tersebut yang perlu dibenahi dalam wisata yang masuk dalam rekomendasi dari Kemenparekraf RI.

"Yang perlu dibenahi lagi mungkin lebih diperbanyak lampu ya, karena anak-anak pas main air agak takut. Tapi, secara keseluruhan bagus dan bersih, saya salut, kamar mandi saja bersih, padahal objek wisata dengan banyak pengunjung biasanya kumuh, karena kebersihan adalah yang utama ya buat saya," tutupnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar

_atrk_opts = { atrk_acct:"XGeit1zDGU20kU", domain:"ayosurabaya.com", dynamic: true}; (function() { var as = document.createElement('script'); as.type = 'text/javascript'; as.async = true; as.src = "https://certify-js.alexametrics.com/atrk.js"; var s = document.getElementsByTagName('script')[0];s.parentNode.insertBefore(as, s); })();