Eks Napi Mudik dari Bandung ke Surabaya Berjalan Kaki

  Senin, 10 Mei 2021   Andres Fatubun
Man Rambo saat berada di Bandung. (Ayobandung.com/Idham Nur Indrajaya)

Man Rambo berprinsip untuk tidak menjadi orang yang meminta-minta. Baginya, lebih baik pasrah dan menunggu keikhlasan dari orang lain daripada harus meminta. 

BANDUNG, AYOSURABAYA.COM -- Seorang mantan napi asal Surabaya yang memperkenalkan dirinya dengan nama Man Rambo sudah berjalan kaki menyisiri Pulau Jawa selama hampir tiga tahun. Berdedikasi untuk kampanyekan semangat antinarkoba, Man Rambo enggan meminta-minta kepada orang dan akan mudik ke Surabaya dengan berjalan kaki. 

Di punggungnya saja, tergantung papan besi yang berisikan imbauan dan tempat dia menggantung beberapa peralatan seperti senter, tempat minum, matras, dll. 

"Kalau saya mau meminta-minta, sebenarnya gampang saja. Saya bisa masuk ke sini (sambil menunjuk Mapolrestabes Bandung) atau ke sini (menunjuk Balai Kota). Pasti ada yang memberi, entah itu Rp20 ribu atau Rp50 ribu," ujar Man Rambo, Jumat, 7 Mei 2021.

Meski ia sudah tahu kepada siapa dia harus meminta di saat butuh uang, namun Man Rambo berprinsip untuk tidak menjadi orang yang meminta-minta. Baginya, lebih baik pasrah dan menunggu keikhlasan dari orang lain daripada harus meminta. 

"Saya ini pejuang. Menjadi pejuang itu bukan fokus kepada keuntungan yang didapatkan, melainkan kepada apa yang bisa diberikan kepada orang banyak, sesuatu yang berguna bagi masyarakat," ujarnya. 

Man Rambo menceritakan bahwa dirinya sudah melakukan aksi keliling Pulau Jawa dari tahun 2018. Selama masa perjuangannya, dia sering diajak oleh para mahasiswa untuk berbincang-bincang di kampus mengenai perjuangan dirinya. 

Di setiap kampus yang disambanginya, Man Rambo kerap diberi bekal perjalanan yang tidak berbentuk uang. Ketika semua kampus nonaktif karena pandemi, akhirnya Man Rambo pun belum pernah berkunjung ke kampus-kampus lagi. Imbasnya, Man Rambo tidak memperoleh bantuan yang biasa datang dari mahasiswa. 

"Biasanya saya dapat (bekal) dari teman-teman mahasiswa di kampus-kampus. Tapi, karena ada pandemi, jadinya nggak pernah lagi," ujar Man Rambo sambil tertawa. 

 Man Rambo pun menegaskan, dirinya tidak ada maksud untuk memanfaatkan kebaikan mahasiwa. Hanya saja, sebagai seorang relawan kemanusiaan, aktivitas-aktivitas yang dilakukannya seringkali beririsan dengan aksi solidaritas para mahasiswa dan akhirnya terjalinlah komunikasi di antara mereka.

"Waktu saya sedang perjalanan pulang ke Surabaya dari Jakarta, waktu itu ada bencana di Lombok. Akhirnya saya bergabung sama teman-teman mahasiswa pencinta alam di Universitas Gunung Jati Cirebon. Waktu di Solo, saya gabung sama mahasiswa-mahasiswa seni untuk galang donasi bencana di Palu," tutur Man Rambo. 

Meski rencana mudiknya tertahan, namun Man Rambo tidak terlalu memusingkan hal itu. Dia sudah terbiasa hidup di jalan, dan dia baru akan melanjutkan mudiknya jika dia sudah memiliki bekal makanan dan minuman.

"Nanti kalau sudah ada bekal, saya akan melanjutkan perjalanan," kata Man Rambo. 

Selama ia di Kota Bandung, setiap harinya Man Rambo menyusuri jalan-jalan di sekitar kota hanya untuk menyampaikan imbauan yang tertera di papan yang ia bawa. Ia pun terus melakukannya secara rutin tanpa pernah meminta-minta uang kepada siapapun.

"Saya melakukan ini secara tulus, tidak dibayar," pungkas Man Rambo.

 

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar