Duta Prokes Seharusnya Memberikan Panutan, Bukan Semata Karena Viral

  Minggu, 09 Mei 2021   Praditya Fauzi Rahman
Putu Arimbawa (28), pelaku pengumpatan para pengunjung Supermal Pakuwon Surabaya yang bermasker meminta maaf secara terbuka. (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

GUBENG, AYOSURABAYA.COM -- Pengusiran jemaah masjid yang bermasker terjadi di Bekasi, Jawa Barat (Jabar) beberapa waktu lalu. Pelakunya diketahui bernama Nawir. Usai videonya viral, ia meminta maaf dan telah diterima polisi. Nawir lantas diangkat jadi duta protokol kesehatan (prokes).

Aksi serupa juga terjadi di kota pahlawan, pelakunya diketahui bernama Putu Arimbawa (28), warga Driyorejo, Gresik. Pelaku pengumpatan para pengunjung Supermal Pakuwon Surabaya yang bermasker dalam sebuah video yang viral itu telah meminta maaf secara terbuka. Ia juga disanksi melakukan kerja sosial dan membayar denda administrasi senilai Rp150.000. Bahkan, ia didaulat duta protokol kesehatan (prokes).

Tak ayal, fenomena tersebut pun membuat khalayak geleng-geleng. Bahkan, pengusungan keduanya menjadi duta prokes itu dikomentari Pakar Administrasi Publik Unair, Falih Suaedi.

Falih menjelaskan, duta merupakan pemain sesungguhnya. Artinya, secara realita mempunyai sesuatu untuk bisa menyentuh orang lain, bukan dengan cara pencitraan seperti yang terjadi dalam sinetron. Maka dari itu, harus ada kriteria-kriteria tertentu yang perlu dipertimbangkan sebelum seseorang diinginkan diusung menjadi duta.

Berikut kriteria-kriteria yang dinilai bisa menjadi pertimbangan menjadi duta menurut Falih:

  1. Figur duta harus mempunyai pertumbuhan pribadi yang konsisten.
  2. Calon duta memiliki kepedulian tinggi terhadap bidang yang dia emban,
  3. Memberikan nilai tambah bidang yang dikampanyekan,
  4. Menerapkan value bidang itu secara konsisten dalam kehidupan. 

"Kalau para pelanggar justru dijadikan duta, saya melihatnya itu hal yang sia-sia, efeknya nol," kata Falih, Minggu (9/5/2021).

Falih menuturkan, sosok seorang duta seyogyanya memberikan panutan. Namun, publik sudah mengetahui bahwa sosok itu tak mengimplementasikan value bidang yang diemban dengan baik dan konsisten.

Menurutnya, hal tersebut selaras dengan teori bandura, yang menyatakan seorang panutan harus memenuhi 2 kriteria, yaitu duta harus mampu mendorong orang lain untuk melakukan sesuatu seperti yang dia lakukan atau harus bisa menginspirasi dan memotivasi orang lain. Yang kedua adalah harus memberikan contoh dan dukungan. 

"Jadi, tidak bisa kita mengangkat duta dengan alasan sosok itu terkenal atau sedang viral," ujarnya.

Falih menganggap, sudah saatnya sosok seorang duta diambil dari kalangan yang tidak melangit, tapi justru membumi. Baik dari sifat, sikap, dan beragam hal mengenai duta yang dimaksud.

Perihal sosok membumi, Falih menyatakan tak mengapa untuk mengambil sosok duta dari kalangan bawah. Menurut dia, sosok dengan kriteria tersebut akan lebih mudah menggerakkan dam mendekati massa secara natural. 

"Jadi, yang terpenting dari sosok duta adalah benar-benar melakukannya secara konsisten dalam kehidupan nyata. Ketika melihat bahwa ada orang lain dari kalangan bawah (yang melakukan sesuatu), maka hati kita akan tersentuh, ikut tergerak melakukan (hal yang sama)," ungkapnya," tutup Dekan FISIP Unair itu.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar