'Ngaji Ngopi', Dakwah Ala Pemudi Surabaya di Warkop

  Minggu, 09 Mei 2021   Praditya Fauzi Rahman
Suasana Ngaji Ngopi di Warung Kopi Oleh Utang Lidah Wetan, Kecamatan Lakarsantri, Kota Surabaya. Minggu (9/5/2021). (ayosurabaya/Praditya Fauzi Rahman)

LAKARSANTRI, AYOSURABAYA.COM -- Sekumpulan pemuda nampak asyik ngopi sambil mendengarkan ceramah di sebuah warung kopi. Sesekali, meneguk kopi sambil menghisap rokok yang disulut. Meski tempat dan jamuan begitu sederhana, namun suasananya begitu berbeda, audiens terlihat begitu aktif dan semarak. 

Saat AyoSurabaya.com berada di lokasi, sekumpulan anak muda dari beragam komunitas nampak begitu antusias mengikuti jalannya tausyiah dari sang penceramah. Pun saat mendengarkan lantunan musik kekinian dan host ala kadarnya khas Suroboyoan. Sesekali, kata-kata mutiara keluar dari lathi sang pembawa acara. Namun, hal itu lumrah dan justru menjadi keharusan dalam acara itu. Suasana begitu mencair dan tak ada ketersinggungan diantara ratusan jemaah yang hadir.

Usut punya usut, acara itu digagas oleh seorang pria, sebut saja Habib Muhammad Assegaf. Kepada AyoSurabaya.com, ia menyampaikan beragam hal perihal kegiatan yang dibesut dengan nama 'Ngaji dan Ngopi'. 

Pria yang akrab disapa Habib itu mengatakan, kegiatan yang telah berlangsung hampir 2 tahun itu tidaklah mudah. Terutama menyasar kalangan millenials sebagai jemaahnya. 

AYO BACA : Wow, Ini Besaran THR Presiden Jokowi

Habib mengaku tak mudah mendekati pemuda untuk mengajak belajar agama. Pun dengan materi yang disampaikan dalam setiap kajiannya di setiap warung kopi (warkop) di kota pahlawan. 

"Ngaji ngopi ini didirikan hampir 2 tahun dan termotivasi karena kita pengen mendekati teman-teman di warung-warung kopi," kata Habib saat ditemui bersama jemaahnya, Minggu (9/5/2021). 

Habib menilai, masyarakat, khususnya anak muda perlu mendapat tambahan ilmu terkait keagamaan. Menurutnya, dakwah sekarang ini harus lebih inovatif dan menarik. Bila hanya menjejalkan ilmu-ilmu agama Islam yang monoton, khalayak akan jenuh. Yang ada, malah enggan mendalaminya.

Oleh karena itu, ia mencetuskan program khusus. Tanpa harus menunggu para jemaah mendatangi, tapi justru jemput bola alias mendatangi arek-arek Suroboyo, di tempat tongkrongan misalnya.

AYO BACA : Ditekuk Chelsea, Manchester City Tunda Gelar Juara

"Di akhir zaman ini, kita harus punya program yang prinsipnya itu jemput bola, karena di akhir zaman sudah bukan lagi orang yang datang ke ulamanya, tapi ulamanya yang perlu datang ke yang didakwahi (jemaah), istilahnya jemput bola lah," ujarnya lalu tersenyum.

Habib menganggap, sekumpulan pemuda yang gemar nyangkruk di warung kopi, akan lebih senang bila memperoleh hal baru tanpa harus meninggalkan rutinitasnya di warkop. Tak ada pungutan biaya sama sekali dalam kegiatan itu, yang ada malah mendapat hadiah.

Sistemnya, Habib membentuk sebuah sistem aktif, mulai dari sesi tanya jawab, musik, hingga give away bagi jemaah yang bisa menjawab pertanyaan dari pembawa acara. Sehingga, majelisnya menjadi lebih hidup dan kajian bisa lebih melekat. Dengan begitu, tujuan supaya jemaah yang hadir bisa lebih optimal dalam menyampaikan ilmu dari Nabi Muhammad SAW bisa lebih maksimal dan meresap, bahkan diharapkan mampu diaplikasikan dalam keseharian. 

"Kita punya cara yang tidak seperti biasanya (mainstream), ada live musik, bebas sambil ngerokok, sambil ngopi, tujuannya supaya bisa diterima lagi oleh kaula muda yang enggan ke majelis-majelis yang formal. Bahkan, ada give away juga kepada jemaah yang bisa jawab sesi tanya jawab, pertanyaannya bebas, tidak harus tentang yang dibahas, bisa tanya jawab tentang tayamum, wudhu, adab bergaul dalam rumah tangga, bahkan hak-hak menjadi pemerintah atau rakyat yang baik juga kita bahas disini," tuturnya.

Habib menuturkan, alasannya memilih warung kopi sebagai lokasi dakwah dan pemuda sebagai objek lantaran mengikuti arus zaman dan perlunya anak muda memperdalam agama Islam. Mengingat, para orangtua atau lansia (lanjut usia) yang melakoni hal serupa di beragam mushala, masjid, hingga majelis taklim lainnya sudah terlalu formal.

"Lebih banyak di warung kopi kan pemudanya, kalau di majelis-majelis yang kusuk di masjid dan majelis taklim itu banyak orang-orang tua dan orang-orang baik, nah yang kalau di warung-warung kopi itu yang perlu kita jamah, akhirnya kita masuk di warung-warung kopi," tutupnya kemudian berdendang bersama jemaah.

 

AYO BACA : Doa Hari ke-27 Ramadan dan Artinya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar