Bocah di Gresik Harus ke Terminal agar Bisa Belajar Online

  Senin, 24 Agustus 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Anak-anak belajar di angkutan kota Gresik (Suara.com/Amin Alamsyah)

GRESIK, AYOSURABAYA.COM -- Niat anak-anak untuk belajar tak surut dengan suasana bising di terminal Kota Gresik.

Beralaskan tikar dan alat seadanya, mereka tetap serius mendengarkan guru yang menjelaskan materi pelajaran.

Tidak sedikit dari mereka sangat antusias. Sebab selama pademi Covid-19 melanda mereka nyaris tidak merasakan belajar sama sekali.

Sampai seorang relawan pengajar Siti Huroirohmatin mendatangi lokasi dan mengajak belajar bersama.

Meski belajar di tengah terminal kota dan di samping kendaraan angkot yang sedang parkir, semangat anak-anak ini tidak pernah padam.

Salah seorang murid Abdul Syafi’i misalnya, ia terlihat senang mengikuti pelajaran. Sesekali dia juga melontarkan pertanyaan terkait materi kepada sang guru.

“Senang akhirnya bisa belajar lagi. Biasanya belajar sendiri tanpa guru,” kata Syafi’i, Minggu (23/8/2020).

Selain Syafi’i, murid lain yang semangat mengikuti belajar itu adalah Rizki Aditya.

Padahal biasanya anak 7 tahun ini lebih suka mengamen ketimbang mengikuti pendidikan. Bahkan orangtuanya pun merasa bersyukur ia mau mengikuti pelajaran.

Padahal Aditya belum pernah sama sekali mengenyam bangku sekolah. Belajar di terminal sejak pandemi mulai menyerbu Indonesia, menjadi pengalaman berharga bagi putara pasangan Agus Supriyadi dan Murti itu.

Saat ini, Aditya sudah bisa menulis dan menghitung. Kini meski belum pernah pergi ke sekolah, kemampuan menghitungnya hampir setara dengan teman sebayanya.

Ia juga mulai pandai menjawab soal yang dilontarkan mentornya.

“Iya senang bisa belajar. Biasnya ngamen bantu orang tua cari uang,” terang Aditya.

Sementara itu Siti Huroirohmatin rela menjadi guru mereka karena peduli tentang pendidikan dan masa depan mereka.

Pasalnya selama pandemi Covid-19 melanda, banyak di antara mereka tidak mendapatkan pendidikan yang layak.

Memang beberapa sekolahan mewajibkan agar sekolah dilakukan dengan daring. Namun itu tidak maksimal.

Apalagi banyak di antara wali murid tidak memiliki seluler dengan kapasitas cukup. Hal ini lah salah satu yang membuat anak-anak berhenti belajar.

“Pertama karena peduli dengan dunia pendidikan. Sebab mereka ini jika tidak ada yang mendatangi tidak akan belajar. Apalagi rata-rata dari mereka lebih banyak sudah membantu orang tua untuk mencari uang,” jelas Siti.

“Sejak awal April saya mengajar di sini. Ya pertama saya sosialisasi kepada orangtua maksud dan tujuan, alhamdulillah responnya bagus sekali. Jadi kami buat jadwal pertemuan seminggu dua kali,” jelasnya lagi.

Rencananya, pembelajaran dengan anak jalanan atau Anjal ini akan berlangsung hingga pandemi Covid-19 selesai.

Namun jika memungkinkan, pendidikan ini akan tetap digelar. Sebab menurut Siti, pengalaman mengajar hingga puluhan tahun ia lakoni jika itu mendukung untuk mencerdaskan anak bangsa. 

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar