Keluarga Korban Kapal Gresik yang Hilang di Bima Tuntut Tanggung Jawab Perusahaan

  Jumat, 14 Agustus 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Sebanyak puluhan orang dari keluarga korban crew awak kapal hilang, mendatangi kantor perusahaan PT Gilang Samudra Raya (GSR), di Kecamatan Kebomas, Gresik, Kamis (13/8/2020). (Suara.com/Amin Alamsyah)
GRESIK, AYOSURABAYA.COM -- Puluhan keluarga korban awak kapal hilang, melabrak kantor perusahaan PT Gilang Samudra Raya (GSR), di Kecamatan Kebomas, Gresik.
 
Sembari membawa foto korban semasa hidup, mereka meminta pertanggung jawaban kepada perusahaan kapal agar dilakukan pencarian.
 
Pantauan di Lapangan, ada sedikitnya 10 orang dari keluarga korban yang mendatangi kantor perusahaan yang beralamat di Jalan Mayjen Sungkono.
 
Namun mereka harus menanggung kenyataan pahit, karena tidak ada satu pun pegawai yang bisa diminta keterangan.
 
Di dalam kantor perusahaan yang layak disebut sebagai gudang itu tidak ada satu pegawai terlihat. Keluarga korban hanya ditemui oleh satu orang satpam.
 
Menurut penjaga keamanan itu, seluruh pegawai tidak ada di tempat karena mengurus kapal yang hilang.
 
“Kami hanya ditugasi menjaga di sini. Soal itu saya tidak tahu apa-apa,” kata satpam perushaan Jayadi saat ditemui di Kantor PT GSR.
 
Sedangkan, Amel salah satu keluarga korban mengaku kecewa atas sikap perusahaan yang tidak kooperatif. Pasalnya berita hilangnya sepuluh crew awak kapal itu tidak diapatkan dari perusahaan. Melainkan dari group WA dan media sosial.
 
“Tidak ada pemberitahuan dari perusahaan. Mereka pun kami desak untuk membuat surat ke Basarnas baru dibuat,” kata Amel keluarga korban dari Robby Dwi Premdi.
 
Menurut Amel, dia los kontak dengan korban pada tanggal 30 Juli 2020. Kemudian pada tanggal 9 Agustus ada kabar kapal tenggelam.
 
Namun tidak ada informasi yang lengkap siapa saja yang ada di kapal tersebut. Baru tanggal 10 Agustus, ada laporan yang lengkap beserta nama crew kapal.
 
Dari sana, ia yakin jika kapal yang ditumpangi Robby memang telah hilang.
 
“Sebenarnya Basarnas Makasar sudah melakukan pencarian. Tapi karena sudah ada yang selamat dua orang pencarian sudah dihentikan. Kami mohon Basarnas agar melakukan pencarian lagi,” tuturnya.
 
Sementara itu, hilangnya kapal dari perusahaan yang beralamat di Kabupaten Gresik itu dibenarkan oleh Kasi Keselamatan Berlayar KSOP Capt Masri T Randa Bunga.
 
Dia menyebutkan kapal tersebut sesuai data, terekam berangkat dari pelabuhan Gresik pada 22 Juli 2020 lalu.
 
Kemudian pada 6 Agustus 2020, pihaknya mendapatkan laporan jika kapal dengan mengandeng tongkang itu hilang di perairan Bima NTB. Sampai saat ini petugas masih melakukan pendalaman atas hilangnya kapal pengangkut bahan bangunan itu.
 
“Iya kami mendapatkan laporan adanya kapal hilang. Kapal itu berangkat dari Gresik bersama tongkang, lalu talinya terputus kemudian kapal dan tongkang terpisah. Sepuluh crew berada di kapal, dua orang berada di tongkang,” kata Capt Masri T Randa Bunga, saat ditemui di rungannya, Kamis (13/8/2020).
 
Menurut Masri, sesuai laporan, kapal itu dikabarkan terputus dengan tongkang lalu terbakar. Namun tidak ada yang mengetahui peristiwa tersebut, sebab kejadian itu terjadi pada pukul 03.00 WIT.
 
Sedangkan tongkang kapal yang terpusut itu ditemukan oleh nelayan setempat di Pulau Sarage, wilayah Likung Tangaya. Dua crew yang ada di tongkang selamat. Antara lain, Hamzah dan Lukman.
 
“Sepuluh crew yang ada di kapal hingga saat ini belum diketahui keberadaanya. Kami masih mengupayakan agar Basarnas kembali melakukan pencarian,” bebernya.
   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar