Surabaya Larang Warga Gelar Lomba Agustusan

  Senin, 10 Agustus 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi Agustusan. (Irfan Al-Faritsi)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Pemkot Surabaya melalui Sekda mengeluarkan SE bernomor 003.1/7099/436.8.4/2020 tentang Pelaksanaan Kegiatan Dalam Rangka Peringatan HUT kemerdekaan RI ke-75.

Surat edaran tersebut diterbitkan berdasarkan perhitungan identifikasi risiko penyebaran Covid-19 pada peringatan HUT kemerdekaan RI ke-75.

Berdasarkan perhitungan identifikasi tersebut, kegiatan malam tirakatan atau tasyakuran serta lomba-lomba kampung mendapatkan skor sebagai kegiatan berisiko tinggi dalam penyebaran Covid-19.

“Berdasarkan poin tersebut, maka kepada seluruh masyarakat untuk tidak melaksanakan kegiatan lomba dan malam tirakatan atau tasyakuran serta kegiatan lainnya yang dapat menimbulkan kerumunan,” kata Kepala BPB dan Linmas Kota Surabaya Irvan Widyanto, Senin (10/8).

Irvan menyatakan, SE tersebut sudah disebarkan ke kecamatan dan kelurahan se-Kota Surabaya. Irvan meminta pihak kecamatan dan kelurahan bisa menyosialisasikan dan melakukan pengawasan di wilayahnya masing-masing terkait penerapan surat edaran yang dikeluarkan.

Irvan memastikan, sebelum mengeluarkan SE tersebut, pihaknya telah menggelar rapat bersama dengan para pakar atau para ahli. Yaitu Prof Bagong Suyanto, perwakilan dari Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (Persakmi), dan juga ahli dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (Unair). 

Berdasarkan hasil dari koordinasi itu, perhitungan identifikasi risiko menyebut kegiatan lomba dan tasyakuran dinilai cukup beresiko. “Karena tasyakuran untuk malam 17 Agustusan itu, pertama jelas ada berkumpulannya. Kedua yang namanya tasyakuran itu pasti makan-makan dan otomatis membuka masker,” ujar Irvan.

Namun, Irvan menegaskan, SE tersebut bukanlah pelarangan melainkan bersifat imbauan. Karena itu, mantan kasatpol PP ini menegaskan untuk kegiatan lomba-lomba disarankan agar dapat diganti dengan kegiatan lainnya yang bersifat online.

“Kalau lomba bisa diganti online seperti misalnya TikTok. Bisa diganti semacam itu jadi kreatifitas juga timbul dan tumbuh dengan kegiatan berbasis online,” ujarnya.

Meskipun kegiatan ini sudah menjadi budaya, dia tidak berhenti mengingatkan agar masyarakat dapat mempertimbangkan kembali ketika menggelar tasyakuran. Sebab, situasi pandemi saat ini dinilai cukup berisiko.

“Kita kembalikan kepada masyarakat. Kita memahami memang ini budaya dari masyarakat kita semua. Dan saya yakin ini sudah menjadi culture, ya. Saat ini kegiatan cukup berisiko mungkin dapat diganti dengan kegiatan lain,” kata dia.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar