Fenomena Webinar: Bagaimana Pilih Aplikasi dan Etikanya?

  Selasa, 19 Mei 2020   Rahim Asyik
Webinar.(Pixabay)

AYOSURABAYA.COM – Pandemi Corona dan pembatasan sosial yang dilakukan secara massal dan berkelanjutan melahirkan kebiasaan-kebiasaan baru. Apa yang di zaman normal dulu dianggap tak lazim atau kurang sopan dan karenanya tak populer, kini dipandang lumrah. Salah satu contohnya adalah fenomena webinar.

Webinar merupakan kependekan dari web-based seminar alias seminar berbasis web. Webinar sebetulnya bukan barang baru. Akan tetapi popularitasnya baru melonjak satu dua bulan terakhir ini. Kini, pemberitahuan mengenai penyelenggaraan webinar bisa dengan mudah ditemukan. Temanya apa saja. Di tengah pembatasan fisik yang jadi kendala seminar, webinar tengah merintis karier untuk jadi kebiasaan baru yang dianggap normal (new normal).

Berbeda dengan seminar fisik, webinar memanfaatkan aplikasi video conferencing. Yang lazim digunakan di Indonesia umumnya Zoom dan Google Meet. Aplikasi-aplikasi itu memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Ada yang berbayar dan ada yang gratisan. Fasilitas yang berbayar tentu lebih bagus, dari sisi jumlah peserta dan waktunya misalnya.

Ada juga yang pesertanya dibatasi, maksimal 100 peserta, 500 bahkan ada yang mampu memfasilitasi lebih dari 10.000 peserta yang akan berkonsekuensi ke kecepatan. Ada juga yang punya fasilitas chat, berbagi konten di antara peserta, menyelenggarakan jajak pendapat atau bahkan fasilitas tombol call-to-action. Ada yang dilengkapi analitik sehingga penyelenggara bisa langsung mendapat laporan performa webinar yang diselenggarakan.

Ada webinar yang bisa direkam. Setelah beres baru diunggah di YouTube atau dibagikan kepada peserta, Ada juga yang bisa disiarkan langsung karena misalnya terintegrasi dengan Facebook Live dan YouTube. Bahkan ada yang bisa dimonetisasi dengan memasukkan iklan.

Berikut adalah aplikasi webinar di luar Zoom atau Google Meet. Aplikasi dimaksud antara lain Demio, WebinarNinja, JetWebinar, GoToWebinar, WebEx, GetResponse, ClickMeeting, Livestream, Webinars OnAir, Livestorm, GoBrunch, BigMarker, Cisco Webex Meetings, Cisco Jabber, Adobe Connect, BlueJeans, Restream, dan Zoho Meeting.

Selain itu ada juga LiveWebinar, Crowdcast, Townscript Live, WebinarGeek, MyOwnConference, eyeson, TouchCast Studio, WorkCast, Freestone, CreateWebinar, HeySummit, Webinar Center, C-Meeting, Beacon360, dan FLOW. Aplikasi webinar lainnya adalah HPE MyRoom, Eventials, Webcast, 6Connex Webinars and Webcasts, BitMeeting, Chatroll, Company Webcast, Conference-On-Demand +LIVE, Convey, eatNgage, eLecture, IBT Training Administration System (TAS), Impartus Virtual Classroom, Klewel, SpotMe VX, Together Talk, Unicko Virtual Classroom, Vidphon, VMukti Webinar, dan Webcast Elite.

Masing-masing aplikasi itu punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Mungkin saja di luar itu masih ada aplikasi lain untuk webinar yang lebih canggih. Yang jelas, banyaknya aplikasi terkait webinar bisa mengindikasikan tengah berkembangnya bisnis di sektor ini.

Dari sisi kepraktisan penyelenggaraan, webinar jelas bisa mengatasi kesulitan ruang, waktu, koordinasi, dan izin yang berimplikasi pada pembengkakan biaya yang biasa menimpa penyelenggara seminar. Menyelenggarakan webinar tak butuh gedung atau ruangan, waktunya lebih fleksibel, bahkan tak perlu izin keramaian. Siapa pun bisa tiba-tiba mengumumkan penyelenggaraan webinar dengan topik terserah.

Sebenarnya, apa manfaat menyelenggarakan webinar? Webinar bisa dimanfaatkan oleh korporat untuk membangun hubungan yang lebih personal dengan pelanggan atau mitranya. Data dari peserta bisa dijadikan database untuk kepentingan korporat. Sementara pembahasan akan suatu topik pun bisa lebih intens. 

Menarik bahwa sebagai sesuatu yang baru, masih ditemukan beberapa hal yang tidak patut muncul dalam webinar. Misalnya ada peserta webinar yang mendengarkan pemaparan dari pejabat formal dengan berkaus, sambil merokok, dan duduk seenaknya. Ada yang mendengarkan sambil menyetir dengan kondisi telefon genggam yang speaker-nya tidak dimatikan sehingga suara gemuruh terdengar oleh peserta lainnya. Beberapa ikut dengan kondisi penerangan yang tidak memadai.

Dari sisi keamanan data, edukasi tentang mana aplikasi yang aman dan yang tidak pun masih harus dilakukan. Kadang kami dengar adanya webinar yang terinterupsi masuknya gambar yang tidak senonoh. Kadangkala ada peserta yang tidak sadar, dia merasa sudah mematikan videonya tapi ternyata masih tersambung sehingga peserta lain masih bisa melihat dia membuka baju.

Kadangkala pembicaraan diinterupsi orang rumah yang nyelonong mengajak mengobrol lantaran tidak tahu bahwa yang diajak ngobrol sedang ikut webinar. Di sisi lain, peserta pun kadang ada yang seenaknya keluar padahal pertemuan sudah dirancang dengan jumlah peserta maksimal. Atas dasar berbagai masalah itu tampaknya perlu dibuat semacam etika webinar.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar