Keluhkan RS Surabaya Banyak Rawat Warga Luar Daerah, Risma Dikecam

  Selasa, 12 Mei 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (Humas Pemkot Surabaya)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Mengeluh rumah sakit di Kota Pahlawan banyak merawat pasien Covid-19 dari luar daerah, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini dikecam.

Menurut Risma, hal itu yang menyebabkan rumah sakit di kotanya overload. Berdasarkan data dan perhitungan yang Risma lakukan, sebanyak 50 persen pasien Covid-19 yang dirawat di rumah sakit Surabaya adalah warga luar Surabaya. Bahkan, terdeteksi di Rumah Sakit Soewandhie dan Rumah Sakit BDH pasien dari luar Surabaya datang langsung ke UGD.

Ketua Tim Kuratif Gugus Tugas Covid-19 Jawa Timur Joni Wahyuhadi menyatakan dokter yang mengelola 99 rumah sakit rujukan di Jatim itu menolak pernyataan Risma. Berdasarkan etika kedokteran, merawat pasien mutlak dilakukan tanpa membedakan ras, suku, agama, kedaerahan maupun politik.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) beserta Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (Persi) bahkan sudah membuat pernyataan bahwa merawat pasien harus sesuai etika kedokteran tersebut.

"Jadi artinya kalau misalkan pemerintah provinsi membuat rumah sakit khusus untuk Provinsi Jatim, orang Kalimantan, orang Jateng nggak boleh masuk, itu nggak etis dan tidak diperkenankan di dunia kedokteran. Sudah paham maksud saya ya? Coba etika kedokteran dibuka," ungkap Joni, Senin malam (11/5/2020).

Dokter Joni memaparkan data, hampir 90-95 persen pasien di RSUD dr Soetomo berasal dari Kota Surabaya.

"Rumah sakit dr Soetomo yang saya tahu persis pasien kami di RSUD dr Soetomo itu 90 persen itu masyarakat Surabaya," ucapnya seperti dilansir dari Suara.com dan TimesIndonesia.co.id.

Menurut Direktur Utama RSUD dr Soetomo tesebut, hampir seluruh rumah sakit-rumah sakit daerah sudah banyak yang bisa menangani SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Sebab, setiap rumah sakit hanya memerlukan dokter paru-paru, dokter bius, dokter penyakit dalam dan menyediakan ruangan isolasi dan ruangan itu pun tidak selalu diperlukan.

"Jadi ini bukan penyakit tumor otak yang harus ke Surabaya, tidak. Jadi Covid-19 ini adalah penyakit yang bisa ditangani oleh dokter paru-paru, dokter penyakit dalam, bahkan dokter umum yang ringan dan sedang cukup dengan dokter paru-paru," tambahnya menegaskan

"Jadi pengalaman kami di RSUD dr Soetomo, 95 persen itu ya orang Surabaya. Saya tidak tahu di rumah sakit lain, apakah memang banyak rumah sakit rujukan yang dari luar perlu diupdate datanya itu. Karena di RSUD dr Soetomo tidak seperti itu," sambung dr Joni.

Ia memberikan contoh merujuk pada kesiapan rumah sakit di daerah-daerah yang sangat luar biasa. Bahkan ada sebuah rumah sakit di daerah yang telah mengembangkan ruang isolasi dari 2 menjadi 40 ruangan.

"Sidoarjo contohnya. Sidoarjo merawat sampai 125 pasien saat ini. Jadi mereka mengembangkan sampai 60 ruang isolasi. Ini RSUD Sidoarjo. Tidak pernah merujuk karena memang ada dokter spesialis paru, spesialis anastesi, ruangan isolasi bisa dengan biaya rumah sakit atau ada Pegawai Tidak Tetap (PTT), recovizing dibuat isolasi negatif tidak terlalu sulit," ungkapnya.

Bahkan RSUD dr Soetomo sendiri membuat 30 ruang isolasi negatif hanya dalam waktu dua minggu.

"Jadi kalau ada niat bisa. Boleh dicatat, kalau ada niat bisa membuat ruang isolasi negatif," tuntas dr Joni.

Pemprov Jatim Buka Suara

Sementara itu, Wagub Jatim Emil Elestianto Dardak menambahkan apa yang diucapkan oleh dr Joni berkaitan dengan sumpah dokter dan berdasarkan fakta secara statistik yang ada.

"Tadi juga seperti yang ditunjukkan dr Jibril (dr Makhyan Jibril Al Farabi, salah satu anggota Gugus Tugas Covid-19 Jatim dari RSUD dr Soetomo) bahwa data yang disampaikan itu berdasarkan domisilinya. Jadi bukan kemudian pasien dari luar kota di kota lain kemudian dia dianggap di tempat kota dirawat, bukan," kata Emil.

Emil mengatakan, data tersebut diharapkan dapat memberikan jawaban yang jelas atas pernyataan Wali Kota Risma. Emil juga mengungkapkan kembali langkah Pemprov Jatim dalam menangani percepatan penanganan Covid-19.

"Mudah-mudahan ini memberikan jawaban yang jelas. Tadi faktual, tapi tolong dilihat juga langkah-langkah provinsi, salah satunya tadi ada 99 rumah sakit rujukan," ujarnya.

"Kami ingat waktu awal-awal kita baru 44. Sekarang sudah 99 dan pendistribusian APD bahkan juga memperkuat rumah sakit rujukan itu di provinsi salah satunya dengan ventilator sudah ada pertambahan empat kali lipat dari awal untuk kapasitas ventilator," sambungnya.

Artinya, lanjut Emil, tidak dapat dikatakan tidak ada upaya untuk melakukan peningkatan kapasitas di berbagai daerah. Bahkan di Surabaya juga terus ditingkatkan. Termasuk RSJ Menur dijadikan kapasitas untuk merawat pasien Covid-19.

"Jadi langkah dari seluruh pihak termasuk masing-masing kabupaten/kota juga berjalan. Jadi ada, upaya kolektif untuk meningkatkan kapasitas rawat," ucapnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar