Diusir Warga Saat Isolasi, Pasien Covid-19 di Jombang Terpaksa Angkat Kaki

  Selasa, 05 Mei 2020   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Ilustrasi pengecekan suhu tubuh untuk mengantisipasi penyebaran virus corona [Suara.com/Angga Budhiyanto]

JOMBANG, AYOSURABAYA.COM — Dua pasien Covid-19 yang menjalani karantina mandiri di rumah kerabat di Jalan Ki Hajar Dewantara Kelurahan Jombatan, Kabupaten Jombang, memilih pergi.

Mereka akhirnya meninggalkan rumah itu dan tinggal di rumah masing-masing. Salah satunya di Diwek, Jombang

Kapolres Jombang AKBP Bobby Paludin Tambunan menjelaskan malam setelah diminta meminggalkan Kelurahan Jombatan, dua orang tersebut langsung pergi dan pindah ke rumah masing-masing.

"Sudah. Mereka langsung pulang ke rumah masing-masing di Diwek. Sudah tidak ada masalah kok," jelas Bobby melalui sambungan telepon, Senin (4/5/2020).

Lebih lanjut, Bobby mengatakan, kejadian di Kelurahan Jombatan karena tidak adanya sosialisasi pada warga setempat. Jika sosialisasi itu sudah sampai ke warga, Bobby yakin tidak akan ada kejadian pengusiran tersebut.

"Kejadian itu hanya karena tidak ada sosialisasi ke warga. Coba kalau ada sosialisai pasti tidak akan terjadi," ungkapnya.

Sebelumnya. Warga Jalan Ki Hajar Dewantara Kelurahan Jombatan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, berdemonstrasi mendatangi salah satu rumah di tepi jalan, Minggu (3/5/2020).

Mereka meminta agar dua orang yang tinggal di rumah tersebut segera angkat kaki. Pasalnya dua orang itu merupakan pasien yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Namun sejak empat hari lalu, dua orang tersebut diisolasi mandiri di rumah itu. Tentu saja, kehadiran dua pasien Covid tersebut mengusik ketenangan warga. Warga gundah.

Puncaknya, Minggu malam warga berkumpul di depan rumah berpagar putih. Secara bersamaan, mereka merangsek ke rumah yang digunakan untuk isolasi.

Mereka menempelkan poster yang berisi pengusiran. Puluhan warga juga berteriak-teriak agar yang menghuni rumah tersebut segeri angkat kaki.

“Kami tidak mau kedatangan tamu yang positif terjangkit Covid. Apalagi dua orang itu bukan warga Kelurahan Jombatan. Cepat keluar dan pergi,” teriak salah satu warga.

Situasi semakin tegang ketika pemilik rumah yakni Luluk menerobos kerumunan massa. Luluk yang berpakaian serba hitam itu meminta warga tidak berbuat seenaknya.

Kalau memang tidak sepakat, Luluk meminta warga membuat surat resmi yang dilampiri tanda tangan penolakan oleh warga.

Namun warga bergeming. Mereka tetap meminta agar dua orang yang sedang diisolasi itu segera hengkang.

“Ini desa kami. Kami menolak kejadian orang luar. Apalagi mereka pasien positif Covid,” ujar warga.

Situasi sedikit mereda ketika sejumlah petugas dari Polsekta Jombang tiba di lokasi. Korps berseragam coklat meminta warga tenang.

Baik pemilik rumah maupun warga kemudian digiring ke balai desa untuk berembuk. Nampak hadir Kapolsekta Jombang AKP Wilono.

Ketua RT 02 RW 01 Kelurahan Jombang Ahmad Nafik mengatakan, aksi spontanitas itu terjadi karena warga resah dengan kehadiran pasien dari luar desa yang menjalani isolasi. Apalagi, kehadiran mereka tanpa ada sosialisasi terlebih dulu.

“Makanya, kami meminta orang yang menjalani isolasi di rumah tersebut segera pergi. Kalau bisa malam ini juga,” ujar Nafik yang berkali-kali menenangkan warganya.

Di hadapan warga, Luluk mengakui bahwa di rumahnya ada dua orang yang menjalani isolasi, yakni SB dan AH.

Namun demikian, Luluk mengklaim bahwa keduanya statusnya negatif. Sudah begitu, isolasi tersebut juga sudah memdapat ‘restu’ dari Bupati Jombang dan Dinas Kesehatan (Dinkes) setempat.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar