Eri Cahyadi Dominasi Sentimen Pemberitaan Positif

  Jumat, 06 Desember 2019   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Kepala Bappeko Eri Cahyadi (suarapubliknews.net)

SURABAYA, AYOSURABAYA.COM -- Lembaga iPOL Indonesia (IT-Research and Politic Consultan) menyebutkan nama Kepala Bappeko Eri Cahyadi yang disebut sebagai bakal calon Wali Kota Surabaya mendominasi pemberitaan positif.

"Eri dinilai memiliki rekam jejak karir yang tidak jauh berbeda dengan Risma sehingga digadang-gadang sebagai salah satu kandidat terkuat di Pilkada Surabaya 2020," ujar CEO iPOL Indonesia, Petrus Hariyanto, kepada wartawan di Surabaya, Jumat (6/12/2019).

Menurutnya, nama Eri Cahyadi menunjukkan tren peningkatan ekspose, sebab tiga pekan lalu namanya masih menempati posisi kedua di bawah Wakil Wali Kota Surabaya Whisnu Sakti Buana.

AYO BACA : Kasus Hacker Kartu Kredit, Polri Temukan Aliran Dana Rp2,6 M

Bahkan, kata dia, nama anggota DPRD Jatim Armuji dan Whisnu Sakti Buana cenderung ingin menggandeng Eri dalam dengan harapan memenangi Pilkada Surabaya tahun 2020.

"Info dari survei internal partai, sosok Eri Cahyadi memang sebagai salah seorang figur yang potensial," ucapnya.

Berdasarkan data yang dimilikinya, ekspose Eri Cahyadi saat ini mencapai 2.701 ekspose, kemudian Whisnu Sakti Buana 2.300 ekspose, disusul Armuji 1.002 ekspose, KH Zahrul Azhar As'ad (Gus Hans) 544 ekspose, Dyah Katarina 299 ekspose, Lia Istifhama 146 ekspose, M Sholeh 134 ekspose, Ahmad Nawardi 123 ekspose dan Hariyanto 70 ekspose.

AYO BACA : Soal Shalfa, Khofifah Tak Pernah Kirim Utusan

Calon lain yang mulai terpantau pergerakannya, lanjut dia, yaitu mantan Kapolda Jatim Irjen Pol (Purn) Machfud Arifin, ASN Pemprov Jatim Firman Syah Ali, tokoh masyarakat Gus Ali Azahra dan Samuel Teguh Santoso.

Data tersebut didapat melalui ekspose data pemberitaan maupun di sosial media yang tersebar sejak September hingga awal Desember 2019.

Menurut dia, semakin masifnya kemunculan bakal calon wali kota baru pada Desember ini menunjukkan analisis pemenangan berbasis big data dan teknologi politik sangat dibutuhkan.

"Karena kampanye politik di era digital saat ini mudah dan cepat membangun popularitas, kedisukaan, maupun ketidaksukaan terhadap kandidat," tuturnya.

AYO BACA : AJI Surabaya dan Yuli Tuntut Media Minta Maaf: Berita Menyudutkan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar