Buntut Rusuh, Persebaya Ajukan Banding ke PSSI

  Selasa, 05 November 2019   Regi Yanuar Widhia Dinnata
Suporter Persebaya memasuki lapangan usai pertandingan Liga 1 2019 antara Persebaya dan PSS Sleman di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, Jawa Timur, Selasa (29/10/2019). (FOTO : Antara/Moch Asim)

SIDOARJO, AYOSURABAYA.COM -- Manajemen Persebaya Surabaya secara resmi melayangkan banding ke komite banding (Komding) PSSI pada Senin (4/11/2019) kemarin.

Kabar itu disampaikan oleh Manajer Persebaya Candra Wahyudi, saat menghadiri latihan tim berjuluk Bajul Ijo di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo.

Candra mengatakan bahwa manajemen mengingingkan keringanan sanksi setelah insiden kerusuhan suporter usai menjamu PSS Sleman di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, Selasa (29/10/2019) lalu.

Seperti diketahui, Komdis PSSI menjatuhkan sanksi berat atas insiden tersebut. Persebaya mendapat larangan tanpa penonton pada saat laga kandang dan tandang sampai akhir musim kompetisi 2019 serta denda Rp200 juta.

Lebih lanjut, Candra menyebut pihaknya menjelaskan kronologi kerusuhan dalam nota banding itu. Dia juga membeberkan langkah yang dilakukan oleh manajemen Persebaya sebelum dan sesudah insiden.

AYO BACA : Suryono Dibunuh Calon Suami Istrinya, Mayat Dicor di Musala

“Pertama, faktanya memang ada kerusuhan di pertandingan lawan PSS, itu tidak bisa dibantah. Publik sudah sangat tahu kalau memang ada peristiwa kekerasan di sana,” kata pria berusia 42 tahun itu seperti dikutip dari Bola.com, (5/11/2019).

“Yang kedua, kami memaparkan kepada PSSI bahwa Persebaya Surabaya sudah berusaha menjalankan secara maksimal pertandingan itu dengan baik. Artinya dengan melibatkan ribuan pasukan keamanan dan sebagainya,” imbuh Candra.

Koordinasi dengan Pemkot Surabaya

Manajemen Persebaya telah bertemu dengan Pemkot Surabaya selaku pemilik dan pengelola stadion GBT. Dalam pertemuan itu hadir pula pihak Polrestabes Surabaya. Candra mengatakan pihaknya menjamin insiden serupa tidak akan terulang.

“Kami telah berkoordinasi dengan Pemkot dan Kepolisian. Kami berusaha menjamin bahwa ke depan tidak ada lagi kejadian serupa. Mudah-mudahan dengan poin-poin itu PSSI dan Komite Banding menerima banding dari Persebaya,” ucapnya.

AYO BACA : Peneliti SSC: Jelang Pilkada Surabaya Eksekutif-Legislatif Jangan 'Baperan'

Manajemen mengaku denda Rp200 juta tak menjadi masalah bagi Persebaya. Namun, hukuman tanpa penonton itu cukup memberatkan karena selama ini manajemen mengandalkan pemasukan dari tiket pertandingan.

Reaksi Bonek

Sementara itu, kelompok suporter Persebaya, Bonek, kecewa berat dengan sanksi Komdis PSSI.

Diberitakan sebelumnya, Koordinator Green Nord atau Bonek tribune utara, Cak Cong, sangat menyayangkan keputusan Komdis PSSI. Dia menilai Persebaya hanya menjadi korban ketidakadilan federasi.

"Saya akui yang melakukan tindakan kerusuhan itu Bonek, bukan oknum. Ini murni dari kami. Tapi, kami melakukan protes kepada manajemen klub. Kami tidak puas," katanya kepada wartawan, Sabtu (2/11/2019) lalu.

"Tapi, Komdis itu tidak pernah memberi edukasi kepada suporter. Bisanya hanya mendenda dan memberi hukuman seperti ini. Federasi hanya tinggal menikmati tanpa membantu klub mengurus persoalan suporter," imbuhnya.

Cak Cong kemudian menyoroti insiden yang pernah terjadi musim lalu saat laga Arema melawan Persib Bandung di Stadion Kanjuruhan, Malang, pada 15 April 2018.

Saat itu, suporter Arema masuk ke lapangan, juga melakukan tindakan kerusuhan. Bahkan, pelatih Persib saar itu, Mario Gomez, menjadi korban pelemparan hingga kepalanya berdarah.

AYO BACA : Grab Berkontribusi Rp8,9 Triliun Perekonomian Surabaya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar