Kota Bandung dalam 2 Film Bisu

  Jumat, 11 Oktober 2019   Rahim Asyik
Stasiun Bandung dalam Autotocht door Bandoeng. (Sumber: Eyefilm.nl)***

Tahun 1913 dan 1927 dibuat dua film bisu tentang Kota Bandung: Autotacht door Bandoeng dan Mooi Bandoeng. Lewat film ini kita bisa menyaksikan wajah Kota Bandung tempo dulu. Berikut tulisannya yang pernah dimuat di sini.

EYE Film Instituut Nederland berhasil mengumpulkan 40.000 film dan hal-hal terkait film, seperti foto, poster, perkakas proyeksi, musik film, serta arsip pembuat dan pengusaha film. Koleksinya dikumpulkan sejak didirikannya pendahulu EYE, Nederlands Historisch Filmarchief, pada 1946.

Pada 1952, lembaga ini menjadi Filmmuseum, dan sejak 2010 menjadi EYE. Koleksi lembaga ini menjadi sumber bagi pelbagai kegiatan seperti restorasi, digitalisasi, dan katalogisasi film. Tujuan utamanya agar koleksinya bisa diakses dan dimanfaatkan khalayak luas. Semua informasi ini dapat ditengok pada situs eyefilm.nl.

Di antara puluhan ribu kumpulan film itu, paling tidak ada dua judul yang berkaitan dengan Bandung tempo dulu. Itulah film dokumenter bertajuk Autotocht door Bandoeng (1913) dan Mooi Bandoeng (1927). Sebagaimana niatan EYE, kedua film tersebut bisa diakses oleh penonton di seluruh dunia lewat kanal resminya di Youtube.

Kedua film itu dihasilkan pada masa antara tahun 1890-an hingga tahun 1920-an akhir, yang di dunia Barat dikenal sebagai zamannya film bisu (silent film). Penonton hanya dapat melihat latar dan orang yang bergerak, tanpa dapat mendengarkan apapun. Satu-satunya yang menuntun penonton adalah intertitle atau kartu judul (title card) atau malah lebih dikenal sebagai subtitle. Rangkaian teksnya berupa teks cetak yang dimasukkan ke tengah aksi dalam film, terutama untuk menerangkan peralihan adegan atau yang akan digambarkan. Sering pula bingkai-bingkai yang berisi teks tersebut dihiasi motif art deco.

Oleh karena itu, kedua film di atas sangat menarik bila dilihat dari sisi tampilan lahiriahnya. Konteksnya juga sangat menarik ditelusuri. Agar lebih jelas, saya akan menguraikan apa-apa yang saya lihat pada kedua film tersebut, disambung dengan hal-hal yang membarengi kedua film tersebut.

1
statewide auto sales

Tampilan awal film Autotocht door Bandoeng karya J.C. Lamster. (Sumber: Eyefilm.nl)***

AYO BACA: Sejarah dan Perkembangan Komik di Bandung

AYO BACA: Mengkaji Ulang Konsep Hubungan Seks Nonmarital dalam Disertasi Abdul Aziz

Perjalanan Menyelusuri Kota Bandung Tempo Doeloe

Marilah kita lihat Autotocht door Bandoeng dulu lebih lekat. Film berdurasi 11 menit 47 detik ini diunggah EYE pada 15 September 2016 dan baru dilihat 1.309 orang. Jumlah yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan kandungan film tersebut.

Sebagaimana yang tadi dibilang, adegan-adegan film bisu dibantu intertitle untuk memberi gambaran kepada para penonton. Dalam Autotocht door Bandoeng ada 13 intertitle yang ditampilkan. Pertama-tama dengan kamera bergerak karena dibawa di dalam mobil, kita dibawa menelusuri ke arah jalan Societeit Concordia. Ini terjadi pada detik 14 dengan teks berjudul ”Weg naar Societeit” serta keterangan di kiri bawah 12.a dan kanan ”K.I. Amsterdam”. Hingga detik 37 kita baru dibawa mata kamera yang bergerak menyusuri Jalan Asia-Afrika. Kemudian pada detik ke-38 ada teks baru ”Chineesche Wijk”. Hingga menit ke-1:48, terpampang lempangnya jalan di sekitar Pecinan Bandung, dengan delman di kiri-kanan jalan. Pada menit 1:49 muncul lagi ”Kerkje langs Braga Weg”. Penelusuran kamera hingga durasi 2:23, digantikan dengan subtitle ”Pieterspark”. Pada menit ke-2:58 berganti dengan ”Station”.

Pada menit 3:29 penelusuran ke Stasiun Kereta Api Bandung berhenti dan digantikan ”Het passeeren van den exprestrein” pada 3:30, yang memperlihatkan kereta api Si Kuik atau Si Gombar yang lewat. Pada 3:48 muncul ”Een deel van den Bragaweg”. Dan pada 4:27 muncullah ”Langs societeit en warenhuis de Vries”, disusul berturut-turut subtitle ”Niewe Buitenwijk (Merdika)”, ”Tjikoeda Pateuh”, dan ”Hotel Homann” (di kiri K.I. Amsterdam dan di kanan Pathe Freres) pada menit ke-6:27.

Dari Hotel Homann, kita dibawa ke Situ Bagendit (”Naar Bagendit”) di Garut, berlayar dengan menggunakan rakit di situ, dan terakhir menyaksikan atraksi pencak silat yang diiringi musik angklung (”Mentjak; een schijngevecht, begeleid door angklongmuziek”). Setelah teks ”Einde” alias tamat, pada menit ke-11:47 muncul bingkai yang berisi gambar gedung yang bagian atasnya sebagai latar depan disertai tulisan ”Koloniaal Instituut” dan ”Amsterdam” di bawahnya.

Dengan demikian, Autotocht door Bandoeng membawa kita berkeliling dulu di Kota Bandung, dengan alur yang tidak beraturan. Karena dari pusat kota kita dibawa ke arah utara hingga ke Pieterspark atau Taman Balai Kota sekarang, kemudian kembali ke selatan, menuju jantung kota, yakni melalui stasiun dan seterusnya, dan dari Hotel Homann kita dibawa ke timur, ke Garut.

AYO BACA : Demam Piknik dan Klub Piknik di Bandung Tahun 1930-an

3

Tampilan awal film Mooi Bandoeng karya Willy Mullens. (Sumber: Eyefilm.nl)***

Film kedua, Mooi Bandoeng berdurasi 16:68 menit dan 36 intertitle itu diunggah EYE pada 15 September 2016, dengan jumlah yang melihatnya baru mencapai 2.396 kali. Pada awal film muncul judul Mooi Bandoeng, di bawahnya ada kata ”door Willy Mullens”. Kemudian bergerak ke Stasiun Bandung. Di situ ada mobil besar milik Hotel Homann yang terparkir, lalu berjalan dan masuk ke halaman hotel. Para penumpang di dalam mobil turun dan disambut pihak hotel dan mengobrol-obrol. Memasuki menit ke-1:20 muncul subtitle ”Passar Baroeweg”, di bawah kata tersebut ada kata ”Haghe-Film”, di kanan dan di kirinya diberi gambar perempuan memakai baju tari sedang memanah.

AYO BACA: Tokoh Pers Jawa Barat Dajat Hardjakusumah

AYO BACA: Sejarah Kebun Binatang Bandung Tahun 1930-an

Sepanjang jalan Pasar Baru, delman berjajar di kanan-kiri jalan. Terlihat orang-orang pribumi berlalu-lalang, berbelanja, baik di dalam maupun di luarnya. Kemudian pada menit 2:58 muncul ”De Missigit van Bandoeng” dengan latar belakang lambang Kerajaan Belanda. Dari Masjid Agung Bandung, kita dibawa melewati pendopo kabupaten (”Regentswoning”), pemandangan Taman Balai Kota Bandung (”Kijkjes in het Pieterspark”), dengan anak-anak bule yang bersepatu dan anak-anak pribumi bertelanjang kaki, bermain. Muncul lagi teks ”De Katholieke Kerk”. Delman lalu lalang mengantar jemaah yang beribadah di gereja. Rombongan suster bule berjubah berjalan kaki.

Kemudian penelusuran kamera berlanjut ke sekolah HBS untuk anak gadis, Bank Indonesia (”De Javasche Bank”), kantor baru residen Bandung, Gereja Protestan, klenteng (”Klenteng, Chineesche Kerk)”, hiasan klenteng (”Wandversiering”), serta suasana di dalamnya (”In de tempel”) yang memperlihatkan seorang lelaki membakar dupa di altar. Kemudian kamera membawa kita melihat rumah kediaman residen Bandung (”Residentswoning”), residennya (”P.R.W. van Gesseler Verschuir, Resident van Bandoeng”). Pemandangan Gunung Burangrang dan Tangkuban Parahu kemudian terlihat, disambung jalan ke arah vila di Taman Lalu Lintas (”Villa aan het Insulindepark”), dan Departemen Peperangan yang berada di seberang Taman Lalu Lintas.

Perjalanan berlanjut ke Taman Maluku yang dihiasi patung Pastor Verbraak. Dari kejauhan terlihat menara Gedung Sate di timur laut. Kamera lalu menyorot ke bagian dalam Gedung Sate. Di dalam, di Perpustakaan Gedung Sate, terlihat sejumlah orang bule sedang berdiskusi dan membaca buku. Adegan itu diberi intertitle ”De leeszaal met bibliotheek mag een belangrijke aanwinst genoemd worden voor intellectueel Bandoeng” (ruang baca di perpustakaan yang bisa dianggap sebagai aset penting bagi kalangan intelektual Bandung). Staf-staf di Gedung Sate beserta pegawai pos, telepon, dan telegraf yang berada dalam satu kompleks bergantian diperlihatkan.

Kamera kemudian merekam rumah dinas pegawai kereta api di Jalan Jawa, Institut Pasteur serta rumah sakit kota (”Het gemeentelijk Ziekenhuis”) yang dilatari delman-delman yang ngetem di depannya. Dari sana, penonton dibawa kembali ke Jalan Braga untuk menyelusuri Gedung Merdeka, Pecinan, dan Taman Ganesha (Ijzermanpark). Pada menit ke-14:32 muncul patung Dr. Ir. Ijzerman.

4

Salah satu intertitle dalam film Mooi Bandoeng. (Sumber: Eyefilm.nl)***

Menit ke-15:03 selanjutnya, penonton dibawa menyaksikan peneropongan bintang Bosscha di Lembang yang konon menjadi kebanggaan orang Bandung saat itu (”De Bosscha-sterrenwacht bij Lembang. De trots van Bandoeng”). Di Lembang diperlihatkan sapi yang sedang merumput, perkebunan yang higienis, dengan bebungaan dan sayuran Eropa. Kemudian pada menit ke-16:46, muncullah ”Einde” dan ditutup dengan gambar gedung dan keterangan ”Koloniaal Instituut te Amsterdam”.

AYO BACA: Pengalaman Terbang dan Mendarat di Bandara Kertajati di Jawa Barat

AYO BACA: Kalau Ibu Kota Negara Pindah ke Kalimantan

Agaknya sama dengan film pertama, Mooi Bandoeng pun menyajikan lintasan perjalanan yang tak beraturan. Kendati dalam beberapa halnya sama, terutama sorotan di sekitar Jalan Braga, Jalan Asia-Afrika, dan Societeit Concordia, sebagai jantungnya Kota Bandung saat itu. Demikian pula Stasiun Bandung dan Pecinan yang juga sama-sama ditampilkan.

Bedanya, Mooi Bandoeng lebih banyak memperlihatkan adegan dan perkembangan Kota Bandung yang kian bersolek, dengan hadirnya bangunan beserta teknologi baru seperti mobil. Mooi Bandoeng juga mengajak penonton berkunjung ke utara Bandung, yakni ke Lembang, bukan ke timur, ke luar kota. Agaknya ini sesuai dengan judulnya, Mooi Bandoeng alias Bandung Elok, memusat di sekitar Bandung.

AYO BACA : Wamena, Permata dari Pegunungan Papua

Film Sebagai Proyek dari Politik Etis

Bila melihat apa dan siapa di balik film Autotocht door Bandoeng dan Mooi Bandoeng, kita mendapatkan nama Koloniaal Instituut. Lembaga ini semula bernama Vereeniging Koloniaal Instituut yang didirikan pada 1910. Kemudian berubah menjadi Indisch Instituut pada 1945 dan Koninklijk Instituut voor de Tropen (KIT) sejak 1950. Menurut situs resminya, kit.nl, tujuan pendirian lembaga ini adalah untuk mempelajari daerah tropis dan mempromosikan perdagangan serta industri di daerah jajahan Belanda. Organisasi ini didirikan oleh Kementerian Jajahan, Kota Amsterdam, Kebun Binatang Kerajaan Artis, dan kalangan usahawan di tanah jajahan.

Menurut Adhie Gesit Pambudi (The Audiovisual Battlefield: The Use of Dutch Documentary Films about the Issues of Indonesia, 1945-1949, 2012) dan Sandeep Ray (“Inadvertent Ethnography in Propaganda: J. C. Lamster’s Films ”, 2018), tidak lama setelah didirikan, KIT hendak membikin film sebagai jalan untuk menyediakan bukti visual keadaan tanah jajahan, sekaligus membujuk warga sipil Belanda untuk ikut berbangga pada perkembangan Hindia Belanda. Dengan demikian, niatan KIT sejalan dengan agenda besar Politik Etis. Hal ini nampak dari surat yang dikirimkan dewan KIT kepada Menteri Tanah Jajahan dengan surat ”7 nummer 1911”.

5

Membaca dan berdiskusi di Perpustakaan Gedung Sate. (Sumber: Eyefilm.nl)***

Pencarian orangnya dimulai pada 1911, sesuai surat yang dikirimkan pengelola KIT kepada Menteri Tanah Jajahan. Pada rapat 15 Januari 1912, KIT menerima usulan mantan Gubernur Jenderal Hindia Van Heutz yang menawarkan jasa kapten KNIL (Tentara Kerajaan di Hindia Belanda) dalam korps topografi. Dialah J.C. Lamster. Dia mulai berdinas di Aceh sejak 1896. Dipindahkan ke bagian survei artileri pada 1902. Untuk melaksanakan tugas pembuatan film, Lamster mengikuti pelatihan singkat di Pathé Frères, Paris. Pathé adalah perusahaan yang didirikan dan dijalankan Pathé Bersaudara pada 1896, dalam bidang peralatan dan produksi film, bahkan distributor film.

Lamster kemudian bekerja. Mula-mula di Jawa dan Bali. Dia dilengkapi sebuah kamera, persediaan film, bahkan seorang operator berkebangsaan Prancis, Octave Collet. Alat dan bahan-bahannya dibeli dari Pathé. Pada bulan-bulan awal, tugasnya membuat film mengalami kesulitan baik secara teknis maupun artistik. Lamster sendiri yang mengedit dan mengedit ulang filmnya, berikut membuat narasi, serta intertitle-nya.

Pada film Autotocht door Bandoeng, Lamster menggunakan teknik shooting yang populer DENGAN sebutan ”phantom ride”, di mana sebuah kamera ditempelkan di atas kendaraan, sehingga mengesankan pengalaman kinetik. Pada 1915, KIT menayangkan koleksi film Lamster untuk ratu Belanda, para menteri, dan para petinggi lainnya di auditorium Haagsche Lyceuum, Den Haag.

AYO BACA: Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota

AYO BACA: Merias Jenazah, Cara Gloria Elsa Hutasoit Berterima Kasih kepada Tuhan

Sementara Haghe-film yang merujuk ke nama The Hague atau Den Haag adalah studio film yang didirikan oleh Willy Mullens (1880-1952) pada 1914. Dia juga menggunakan koleksi film KIT untuk memproduksi film mengenai Hindia Belanda. Untuk memenangi persaingan dengan perusahaan film lokal di Hindia Belanda, dia mendapatkan sokongan penuh dari Komisi Pusat Sensor Film Belanda (Centrale Commisie voor de Filmkeuring).

6

Willy Mullens (1880-1952). (Sumber: Algemeen Handelsblad, edisi 31 Januari 1925)***

Dia pernah dua kali ke Hindia Belanda, yaitu pada 1924 untuk membuat film industri tambang minyak bumi dan pada 1926 atas permintaan pemerintah Belanda selama sembilan bulan. Oleh Dienst der Volksgezonheid atau Kantor Kesehatan Pribumi, Lamster diminta membuat film tentang pest (De Pest op Java). Dari ekspedisinya itu pula, dia juga membuat film panorama istana Surakarta, Surabaya sebagai kota pelabuhan, kehidupan sehari-hari orang Batak di Sumatra, dan kebudayaan Bali.

Adapun informasi pembuatan film Mooi Bandoeng, saya timba dari berita dalam Provinciale Geldersche en Nijmeegsche Courant (23 April 1928) dan Het Vaderland (17 Januari 1929). Bila diringkaskan adalah sebagai berikut: Film ini dibuat oleh Mullens atas pesanan Perhimpunan Bandoeng Vooruit dan menjadi milik Tuan Poldervaart, yang tinggal di Slipgelandtstraat 145, Belanda. Poldervaart adalah ayahnya direktur pekerjaan umum di Bandung. Mooi Bandoeng ini dibuat selama enam hari. Teks untuk intertitle-nya ditulis oleh Clinge Doorenbos. Mulai ditayangkan di studio milik Mullens di Waldorpstraat, Januari 1928. Kemudian ditayangkan oleh Perhimpunan Timur dan Barat (De vereeniging Oost en West) di Olympia-theater pada April 1929.

Itulah pengalaman saya menonton dua film bisu mengenai Bandung. Selain hal-hal yang sudah saya utarakan, sebenarnya masih banyak yang dapat kita petik dari kedua film dokumenter tersebut. Misalnya perbandingan wajah Kota Bandung antara 1913 dan 1927. Menyelidiki lagi fungsi film sebagai propaganda proyek Politik Etis serta implikasinya bagi kalangan pribumi. Ayo, mumpung masih bisa dilihat! Bila penasaran, sila singgah ke situs eyefilm.nl.

ATEP KURNIA, Peminat literasi dan budaya Sunda

AYO BACA:Nomophobia, Ketakutan Saat Berada Jauh dari Gawai

AYO BACA: Korupsi Jalan Terus, Bagaimana Menghentikannya?

AYO BACA : Sejarah dan Asal-usul Julukan Parijs van Java

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar