Gelar Empu Ageng untuk Oscar Motuloh

  Kamis, 19 September 2019   Rahim Asyik
Rektor Institut Seni Indonesia Yogyakarta Profesor Agus Burham menyematkan gelar Empu Ageng kepada Oscar Motuloh (penanggung jawab dan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara) di Concert Hall, ISI Yogyakarta, Rabu (18/9/2019). Oscar dianugerahi gelar kehormatan Empu Ageng, setara dengan Doktor HC, oleh ISI Yogyakarta atas perannya dalam dunia pendidikan, kemanusiaan, dan kebudayaan serta aktivitas dan karyanya di bidang foto jurnalistik. (M Risyal Hidayat/Antara Foto)***

Oscar Motuloh yang mendedikasikan hidupnya untuk foto jurnalistik dianugerahi gelar Empu Ageng oleh Institut Seni Indonesia Yogyakarta. Empu Ageng ini setara dengan gelar doktor honoris causa yang lazim dikenali di bidang ilmu dan perguruan tinggi lain. Oscar mengawali kariernya sebagai pewarta tulis di kantor berita Antara sebelum menjadi legenda di bidang foto jurnalistik.

ALUNAN MUSIK GAMELAN PENGIRING TEMBANG KHAS JAWA terdengar silih berganti dengan orkestra musik klasik populer mengawali acara sakral akademik penganugerahan gelar Empu Ageng. ”Gelar ini diberikan kepada Empu Ageng Oscar Motuloh. Seseorang yang telah mendedikasikan dirinya dalam bidang seni fotografi jurnalistik,” kata Rektor Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Agus Burhan, dalam Sidang Senat Terbuka Penganugerahan Empu Ageng Bidang Fotografi Jurnalistik di Yogyakarta, Rabu (17/9/2019).

Oscar Motuloh dinilai layak mendapat gelar Empu Ageng Foto Jurnalistik lantaran rekam jejak dan  dedikasinya di bidang foto jurnalistik. Oscar aktif menggelar pameran, menerbitkan buku, dan mengajar di Jurusan Fotografi, Fakultas Media Rekam, ISI Yogyakarta.

Selain menganugerahi gelar kehormatan khusus akademik kesenian itu di Concert Hall, ISI Yogyakarta juga menyelanggarakan Pameran Tunggal Empu Ageng Oscar Motuloh bertitel ”MataWaktu” di Galeri RJ Katamsi.

Oscar bukan orang pertama yang dianugerahi gelar Empu Ageng oleh ISI Yogyakarta. Sebelumnya ada nama Cokrowarsito dalam bidang seni karawitan pada 2004, Edhi Sunarso tokoh seni patung (2010), Ki Cermo Manggolo atau Dalang Timbul Hadiprayitno (2011), dan Abas Alibasyah dalam bidang seni rupa pada 2012.

Walaupun demikian, anugerah Empu Ageng di bidang fotografi jurnalistik ini baru yang pertama. Oscar dinilai membawa nilai praktis maupun keilmuan yang menjadi fenomena baru bagi dunia fotografi di Indonesia dan Asia. ”Dalam karya-karya Oscar Motuloh selalu terefleksi daya hidup dan energi yang telah melampaui sekadar keindahan sebagai klangenan atau terkuci dalam pesona elitisme salon,” kata Agus Burhan.

Agus bahkan menambahkan, ”Kreativitasnya selalu memancarkan daya ekspresi yang merupakan perpaduan antara nilai-nilai straight dan pictorial, sehingga berbagai realita foto jurnalistik itu hadir dalam nilai artistik yang tinggi.”

Sebutan Empu Ageng dalam bidang seni setingkat dengan doktor kehormatan (honoris causa, DR HC) itu melengkapi sejumlah penghargaan khusus bagi Oscar dari kalangan profesional. Sebelumnya Oscar mendapat ”Penghargaan Kebudayaan” dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (2015), Press Card Number One (PCNO) dari Komunitas Hari Pers Nasional (HPN, 2013), ”30 Most influential Photographers in Asia” dari Invisible Photographer Asia (IPA, 2014), dan Anugerah Sepanjang Hayat (Lifetime Achievement) saat Anugerah Pewarta Foto Indonesia (APFI, 2018).

AYO BACA: Tokoh Pers Jawa Barat Dajat Hardjakusumah

AYO BACA: Sejarah Kebun Binatang Bandung Tahun 1930-an

Bermula dari Pewarta Tulis Kantor Berita Antara

Selepas mengikuti Kursus Dasar Pewarta Angkatan Kelima (Susdape V) di Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara pada 1988, Oscar tercatat sebagai pewarta tulis. Dua tahun kemudian, Parni Hadi (saat itu wakil pemimpin pelaksana redaksi LKBN Antara) menempatkan Oscar di Biro Foto Antara. ”Oscar! Murid yang cerdas, encer ing endhas, dan agak mbeling,” kata Parni Hadi, wartawan Antara sejak 1973 hingga mencapai puncak karier menjadi pemimpin umum/pemimpin redaksi pada 1998.

Encer ing endhas adalah bahasa Jawa yang dapat dimaknai otak encer. Adapun mbeling padanan dari nakal. Dua syarat itulah yang setidak-tidaknya terasa cukup bagi Parni untuk menempa Oscar memasuki dunia fotografi jurnalistik. Dunia baru yang kemudian mengibarkan namanya.

Oscar-Pidato

Oscar Motuloh menyampaikan pidato ilmiah saat penganugerahan Gelar Kehormatan Empu Ageng dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta di Concert Hall, ISI Yogyakarta, Rabu (18/9/2019). (Andreas Fitri Atmoko/Antara Foto)***

Sejumlah orang di redaksi kala itu banyak yang menilai penempatan Oscar, dan sejumlah wartawan muda lainnya, merupakan ”langkah kuda” dalam percaturan kantor yang diterapkan Handjojo Nitimihardjo (1940-2002) selaku Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi LKBN Antara dan Parni Hadi.

Saat itu, Antara mulai menempatkan banyak wartawan muda di Jakarta, biro daerah se-Indonesia, apalagi di biro luar negeri menjalani tugas hingga batas maksimal. Semua wajib menempa diri berkinerja lebih dari satu fungsi (multitasking). Wartawan Antara diarahkan sekaligus menjadi pewarta tulis dan foto. Mereka bahkan diharapkan mampu menerapkan peliputan dwi bahasa, Indonesia dan Inggris.

Ada di antara mereka yang kemudian memilih keluar dari redaksi, malah ada pula keluar dari Antara. Namun tak sedikit dari mereka yang justru menjalani tantangannya hingga purnatugas.

Parni secara khusus membentuk tim wartawan yang mendapat tugas liputan menyatu dengan menyiapkan penerbitan buku foto jurnalistik. Mereka dikenalkan dengan diplomasi pers (press diplomacy), kebijakan pemasaran dalam pemberitaan (news marketing), dan penguasaan teknologi informasi.

Dari puluhan wartawan, Oscar termasuk yang menjadi ujung tombak. Mulai dari liputan Sidang Umum Kantor Berita Asia Pasifik (OANA) pada 1990 hingga liputan mancanegara terkait politik, sosial, kebudayaan, dan olahraga. Kemudian, ia mengikuti kursus fotografi di Hanoi, Vietnam, dan Tokyo, Jepang.

AYO BACA : Sejarah dan Asal-usul Julukan Parijs van Java

AYO BACA: Korupsi Jalan Terus, Bagaimana Menghentikannya?

AYO BACA:Nomophobia, Ketakutan Saat Berada Jauh dari Gawai

Selama periode Oktober 1991 hingga Juni 1992, Oscar secara khusus ditugasi meliput ke berbagai pelosok di provinsi termuda Republik Indonesia, yakni Timor Timur (Timtim). LKBN Antara lantas menerbitkan buku East Timor, a Photographic Record berisikan foto-foto bidikan Oscar dengan pendekatan jurnalistik dan antropologi. Buku ini merekam berbagai sisi kehidupan masyarakat di provinsi ke-27 RI. Setiap foto dilengkapi peta dan noktah penunjuk lokasi pengambilan gambarnya.

Konferensi Tingkat Tinggi Non-Blok pada 1-6 September 1992 di Jakarta menjadikan buku East Timor sebagai salah satu terbitan resmi pemerintah untuk tamu-tamunya yang datang dari belahan Benua Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika. ”Semua bermula dari sana. Dari Antara,” ujar Oscar Motuloh, menanggapi jejak langkah hidup profesionalnya.

Secara pararel Oscar mendapat tugas khusus dari Handjojo dan Parni menjadi ujung tombak tim untuk mendirikan Museum Purna Bhakti dan Galeri Jurnalistik Foto Antara (GFJA). Museum itu terwujud tahun 1991.

Ide adanya museum khusus untuk mengenang perjalanan para tokoh pendiri, terutama kinerja wartawannya mulai dari memperjuangkan hingga mengisi kemerdekaan RI memang sudah menjadi ide lama berbagai pihak. Namun, galeri foto jurnalistik? Jelas-jelas ini gagasan utama Oscar. Sekalipun Oscar secara pribadi selalu mengelak fakta ini dengan berlindung pada kenyataan bahwa persetujuan Handjojo dan Parni jauh lebih penting.

Handjojo, yang memimpin Antara pada 1987-1998 atau mulai berpangkat Letnan Kolonel Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) hingga Marsekal Pertama TNI, menerapkan gaya manajemen “benahi kantor dan benahi berita sekaligus, agar jadi kantor berita yang sebenar-benarnya”. Adapun Parni lebih sering dijadikannya pemecah masalah (trouble shooter) dengan melibatkan pasukan wartawan muda.

Dari puluhan wartawan muda Antara 1990 itulah, Oscar termasuk yang mendapatkan tempat. Bukan tempat yang enak, tapi tempat yang memerlukan kinerja ekstra. Duet Handjojo-Parni ingin wartawan Antara bukan sekadar ”kuli tinta” dan ”tukang potret”. ”Gue sering konflik keras dengan Parni Hadi, tapi dia sportif dan kami tetap baik-baik aja tuh,” kata Oscar, mengenang awal dari misteri profesi jurnalismenya.

Wartawan Antara harus punya peran lebih strategis, antara lain menjalani proses jurnalisme plus. Mereka juga harus mampu menyiapkan konsep hingga mendapat produk ikutan dari proses jurnalistik. Pewarta foto digenjot karyanya bukanlah pelengkap berita. Adapun pewarta tulis wajib sadar foto alias ”darto”, sehingga dibuatlah program Kursus Dasar Pewarta Foto (Susdafo) pasca-Susdape.

Penerbitan buku, mengajar di Lembaga Pendidikan Jurnalistik Antara (LPJA) yang didirikan 24 Februari 1988, mengisi koleksi maupun kegiatan di museum dan GFJA menjadi lahan pengabdian baru bagi wartawan kantor berita resmi RI itu untuk kepentingan Indonesia dan dunia.

AYO BACA: Pengalaman Terbang dan Mendarat di Bandara Kertajati di Jawa Barat

AYO BACA: Keribetan yang Harus Disiapkan Kalau Ibu Kota Negara Pindah ke Kalimantan

Oscar-Pamer

Oscar Motuloh menjelaskan karyanya saat pembukaan pameran tunggal bertajuk ”Matawaktu” di Galeri R.J. Katamsi, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, Rabu (18/9/2019). Pameran yang menyajikan trilogi pameran tunggal Oscar Motuloh, antara lain ”Voice of Angkor” (CCF, Jakarta 1995), ”Art of Dying” (CP Artspace, Washington, 1997), dan ”Soulscape Road” (Galeri Salihara Jakarta, 2007) tersebut sekaligus menjadi pertanggungjawaban atas penyerahan gelar Empu Ageng dalam bidang Fotografi Jurnalistik dari ISI. (Andreas Fitri Atmoko/Antara Foto)***

Tatkala menyiapkan Museum Purna Bhakti dan GFJA, Oscar Motuloh banyak melakukan perjalanan penelisikan ke berbagai tempat, termasuk mewawancarai para wartawan pensiunan Antara. Tak jarang Oscar harus meminta-minta layaknya pengemis dan perayu ulung agar para seniornya mau menyumbangkan koleksi pribadi terkait tugas profesional semasa kerja di Antara.

Tentu saja koleksi bernilai sejarah, mulai dari arsip Buletin Antara, naskah dan foto, kamera dan mesin ketik, alat pengirim pesan Morse maupun telegraf, hingga kartu pers, serta kartu pengenal saat liputan internasional. Hebatnya, koleksi sepeda motor tua pun didapatkannya.

Oscar Motuloh Sang Bohemian Penelisik

AYO BACA : Sejarah dan Perkembangan Komik di Bandung

Satu hari, pensiunan wartawan yang pernah bertugas di Manila, Filipina, dan Kepala Antara Jawa Timur, Wiwiek Hidajat (kini almarhum) di kediamannya di Surabaya, medio 1991, antara lain berujar, ”Kalau yang mengemis koleksi pribadi bukan seorang bohemian yang kelihatannya bisa dipercaya membawa misi Antara, saya mungkin tidak mau memberikan kartu pengenal ini.”

Bohemian alias tukang keluyuran yang dimaksud Wiwiek ya siapa lagi kalau bukan Oscar Motuloh. Ia sabar mewawancarai, memotret sekaligus mengemis agar sang senior mau merelakan kartu persnya saat menjadi wartawan Antara di awal kemerdekaan RI dan perjuangan Arek-Arek Surabaya terkait peristiwa bersejarah yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan, 10 November 1945.

Dengan cara-cara bohemian pula, pria yang akrab dengan penampilan rambut gondrong, kaos oblong gelap dilapisi baju kasual, dan sepatu pendaki gunung itu menggali kesejarahan Kantor Berita Antara. Dia juga banyak menelisik cerita dan koleksi wartawan sekaligus penulis sejarah pers Soebagijo IN.

”Pak Bagijo tantangan tersendiri buat gue. Pertama ke rumahnya cuma diterima di teras. Gue juga serasa ujian skripsi atau diinterogasi polisi, malah ditanya-tanya. Belakangan baru diajak masuk ruang tamu sampai ke ruang khusus buku pribadinya. Seru jadinya, banyak dapat ilmu sekaligus ada juga koleksinya,” kata Oscar.

Pengalaman menjalani karier pewarta foto hingga mengelola manajemen penerbitan buku foto jurnalistik, kurasi galeri, dan sejumlah hal terkait itulah yang kemudian membuat Oscar dipercaya untuk menggelar pameran foto pribadi bergengsi di dalam maupun luar negeri. Paling tidak, ia menjadi kurator untuk 161 buku dan pameran foto selama tahun 1999-2018, pameran foto jurnalistik tunggal maupun kelompok 31 kali dalam periode 1997-2019.

AYO BACA: Wartawan di Balik Kisah Nyata Sinetron ”Sayekti dan Hanafi"

AYO BACA: Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota

”Voice of Angkor” hasil liputan di kawasan Candi Angkot Wat, Kamboja, menjadi pameran tunggal perdana Oscar pada 1997. Sejumlah fotonya itu dipamerkan di Kedutaan Besar Prancis di Jakarta. Selain juga menjadi materi promosi edukasi Organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) di Paris, Prancis.

Kemudian, pameran tunggal ”Carnaval” (1999), ”Peripherial Songs” (2002), ”The Art of Dying” (2003), ”Sanctuary” (2006), dan ”Lintasan Saujana Jiwa-Soulscape Road” (2009) menjadi pembuktian sekaligus kesaksiannya menapaki langkah menjadi maestro fotografi jurnalistik ”di Indonesia”. Langkah itu menjadi lebih panjang tatkala ”Soulscape Road” diboyong ke satu tempat yang didirikan tahun 1864, yakni Tropen Museum, Amsterdam, Belanda (2011).

”Oscar bekerja dengan gagasan yang orisinal tentang kesejarahan untuk dinikmati generasi kekinian. Detail, kejelian, dan sifat argumentatifnya dalam menuangkan gagasan sangat mengagumkan. Saya menikmati bekerja bersamanya,” ujar Hans van den Akker, kurator Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda, di satu kunjungannya ke GFJA.

Museum Bronbeek awalnya salah satu Istana Raja Belanda pada 1845. Tempat itu kemudian menjadi tempat tinggal prajurit di Hindia Belanda (KNIL) yang cacat purnatugas. Bersama GFJA, museum tersebut sejak 2015 rutin mengadakan pameran foto, penerbitan buku berbagai kepingan dokumen bersejarah, terutama militer Belanda di Indonesia.

Terungkap pula, banyak prajurit wajib militer KNIL berhati nurani pro-kemerdekaan RI lantaran menyaksikan dan merasakan langsung kedekatan TNI dan rakyatnya. Sejumlah prajurit itu menuangkan kegalauannya memerangi rakyat Indonesia lewat buku harian, foto-foto, dan catatan grafis karya Flip Peteers untuk tunangannya bertitelkan ”Lieve Gerda” (Gerda Sayang).

Hans juga mengakui kekuatan referensi mitra kerjanya itu memadukan fakta dan dokumen sejarah dengan kemampuan visual, sastra, dan musikalitas untuk membuat tema pameran. Hal ini mudah saja dibuktikan bilamana melihat banyaknya koleksi buku dan cakram digital aneka genre, serta berbagai pernak pernik yang memicu gagasan di mana pun Oscar memilih sarangnya.

Satu hal yang sangat sulit dilepaskan dari spirit dirinya adalah GFJA. Galeri dalam bangunan bersejarah di Jalan Antara, Pasar Baru, itu adalah lokasi disebarkannya isi naskah Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 ke berbagai penjuru dunia. Galeri itu dan Oscar punya keterikatan kuat lantaran 17 Agustus juga hari kelahiran Oscar Motuloh di Surabaya, Jawa Timur, pada 1956.

GFJA selama lebih dari tiga dasawarsa layaknya rumah tinggal dan juga rumah singgah para fotografer, peneliti jurnalisme, bahkan penelaah bangunan bersejarah dan sinematografi. Rasa memiliki oasis berjurnalisme, khususnya foto jurnalisme, terwujud di sana. Oscar mengakhiri karier profesionalnya selaku wartawan dan karyawan Antara yang berusia 60 tahun juga di sana.

Kinerjanya tentu saja tak akan pernah mudah tergantikan oleh siapa pun yang menjadi ahli warisnya. Walau Oscar meyakini nilai-nilai jurnalisme tak akan pernah dimakan zaman. ”Jurnalisme, mau tulis, apalagi foto, cepat banget jalannya. Apalagi zaman Internet begini. Cepat basi. Cuma saja, nilai jurnalisme, pakai fakta, data, dan referensi jujur buat rakyat enggak bakal ada matinya,” demikian Oscar Motuloh.

PRIYAMBODO RH, pewarta senior LKBN Antara sejak 1990, dan Direktur Eksekutif Lembaga Pers Dr. Soetomo (LPDS, 2008—2018)

AYO BACA: Kemajuan Indonesia dalam Menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca

AYO BACA: Asal-Usul Mengompol dan Cara Mencegahnya

AYO BACA : Mengkaji Ulang Konsep Hubungan Seks Nonmarital dalam Disertasi Abdul Aziz

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar