Sejarah dan Perkembangan Komik di Bandung

  Senin, 16 September 2019   Rahim Asyik
Empat jilid komik wayang Ulamsari karya S. Ardisoma, Gandaatmadja dan Dardja Sutisna terbitan Toko Melodie antara 1955-1956. (Sumber: patinantique.blogspot.com)***

Kota Bandung di Jawa Barat pernah menjadi sentra komik di Indonesia. Komik tertua yang diterbitkan di Bandung tercatat dibuat sekitar tahun 1950-an. Sejak saat itu, Bandung menjadi pusat tren komik di Indonesia. Bahkan sempat dijuluki sebagai ibu kota komik. Berikut adalah upaya awal pemetaan sejarah komik di Bandung. Tulisan pernah dimuat di sini.

DARI DUA TEMPAT TINGGAL DI CIKANCUNG, Kabupaten Bandung, dan Cibiru, Kota Bandung, saya menyimpan  ribuan koleksi buku. Dari ribuan buku yang saya kumpulkan selama bertahun-tahun itu, hanya sedikit koleksi komik yang saya miliki. Itu tentu berkaitan dengan minat saya selama ini. Selama ini saya mengumpulkan buku-buku di sekitar kesusastraan, kebudayaan, dan sejarah, terutama sastra, budaya, dan sejarah Sunda.

Namun perkenalan yang kemudian, disusul oleh pertemuan-pertemuan dengan para kolektor komik lawas di Bandung, sedikit banyak menyadarkan saya bahwa Kota Bandung pernah menjadi pusat perkomikan di Indonesia. Pertemuan-pertemuan dengan para kolektor benda-benda lawasan itu biasanya diadakan di rumah Kang Dede, di Jalan Cimanuk, Kota Bandung.

Meskipun jadwalnya tak tentu, pertemuan biasanya diadakan setiap Sabtu. Acara yang diberi tajuk ”Kongkow Saptuan” ini sudah berlangsung lama. Mendiang Haryadi Suadi, kolektor buku lawas dan dosen ITB, dulu sering menghadiri ”Kongkow Saptuan”. Selain Haryadi, kolektor dan peminat komik lainnya yang sering hadir antara lain Sam Askari Soemadipradja, Agus Sachari, Pribadi Widodo, Soetrisno Moertiyoso, Agung Koswara, Muhammad Isa Pramana, dan Iwan Gunawan.

Sebagai ”pendatang baru”, saya biasanya mengikuti dan mengamati dengan rasa kagum yang kian menggunung dan rasa penasaran yang kian berkembang terhadap produk cerita bergambar tempo dulu itu. Betapa banyak, betapa menarik, dan betapa unik komik-komik yang dihasilkan dari Kota Bandung dari masa yang telah lalu itu.

Untuk mulai mengoleksi komik Bandung kini menjadi problem tersendiri. Masalahnya tentu saja terletak pada kelangkaannya. Bila pun ada yang menjual, harganya mahal. Satu jilid komik Bandung terbitan tahun 1950-an atau 1960-an misalnya, dijual ratusan ribu rupiah. Itu saya amati dari postingan-postingan akun media sosial seorang kawan penjual buku lawasan di Bandung. Oleh karena itu, seorang senior kolektor buku lawasan sempat berujar, ”gila harga komik jadul kini harganya selangit”.

Akhirnya bisanya cuma meminjam, terutama dari Kang Dede dan Kang Sam. Dari obrolan dengan keduanya, pengetahuan saya ihwal sejarah dan perkembangan komik di Bandung kian bertambah. Hal ini bertalian dengan munculnya keinginan besar saya untuk mencoba membuat pemetaan mengenai penerbitan komik di Kota Bandung.

AYO BACA: ​Nomophobia (No Mobile Phone Phobia), Ketakutan Saat Berada Jauh dari Gawai

AYO BACA: Pengalaman Terbang dan Mendarat di Bandara Kertajati di Jawa Barat

Kota Bandung Sebagai Ibu Kota Komik

Berbekal beberapa pustaka yang terkait dengan komik Indonesia, antara lain Komik Indonesia (1998) karya Marcel Bonneff; Dari Gatotkaca hingga Batman: Potensi-potensi Naratif Komik (2005) karya Hikmat Darmawan; Asian Comics (2015) oleh John A. Lent; Lintasan Cergam Medan: Catatan Seorang Kolektor (2016) karya Herry Ismono; dan Buah Cinta Terlarang & Cinta Morina: Catatan dari Dunia Komik (2017) oleh Anton Kurnia. Berikut ini adalah catatan saya mengenai perkembangan komik di Bandung. Ditambah keterangan para kolektor, terutama Kang Sam Askari, serta penelusuran sumber pustaka lainnya.

Dari berbagai sumber itu diketahui bahwa komik tertua yang diterbitkan di Bandung dibuat sekitar tahun 1950-an. Sejak saat itu, Bandung dianggap pernah menjadi pusat tren komik di Indonesia. Bahkan dijuluki sebagai ibu kota komik.

Ditinjau dari sisi penerbitnya, Penerbit Lubuk Pustaka-lah yang mula-mula menerbitkan komik seri dongeng anak-anak berjudul Manik Kangkeran dengan ilustrasi oleh A. Ruchijat dan Iwan RS pada April 1953. Penerbit ini juga mengeluarkan komik anak-anak Kuntum Jaya, Perjuangan Bangsa, Ibu Pertiwi dari Masa ke Masa karya R. Moh Ali (penyusun) dan Mardiyanto (pelukis).

Sejak Januari 1954, Penerbit Melodie menerbitkan majalah komik, Melodie Komik. Majalah setebal 32 halaman ini terbit setiap tanggal 1 dan 15. Edisi pertamanya menyajikan kisah ”Nina Gadis Rimba” karya Johnlo dan ”Sri Asih” karya R.A. Kosasih. Pada edisi keduanya, disajikan kisah ”Putri Bintang” (Johnlo), ”Roban Pemuda Rimba” (Johnlo), dan ”Kusumayati” (R.A. Kosasih). Ada pula informasi ilmu pengetahuan dan cerita pendek untuk anak-anak Sekolah Rakyat. Edisi-edisi menyajikan kisah ”Si Kasih”, ”Ganesa Bangun”, ”Kapten Kilat”, ”Garuda Putih”, dam ”Roxar”. Sementara pada edisi ke-12 terbit komik ”Siti Gahara” (R.A. Kosasih).

AYO BACA : Tokoh Pers Jawa Barat Dajat Hardjakusumah

Pada 1954 pula, Melodie menerbitkan seri Klasik Indonesia. Tiga edisi awalnya menyajikan kisah ”Mundinglaya Dikusumah”, ”Lutung Kasarung”, dan ”Sangkuriang” oleh R.A. Kosasih. Cerita wayang mulai diterbitkan pada edisi keempat, yaitu ”Arjuna Wiwaha” oleh R.A. Kosasih. Kemudian cerita ”Damar Wulan” dan ”Ramayana” (R.A. Kosasih). Melodie selanjutnya menerbitkan majalah Aneka Komik yang terbit sebulan tiga kali dan memuat 2-3 cerita. Majalah ini antara lain menyajikan kisah ”Jakawana” karya S. Ardisoma, ”Sri Asih”, ”Putri Bintang”, dan ”Siti Gahara”. Ada juga seri Kisah Bergambar, Kisah Berhikayat Aneka Illustration, dan Cahaya Komik.

Majalah anak Cahaya Komik mulai terbit tahun 1955. Edisi pertamanya memuat certa ”Si Atong” karya LH. Ie. Kemudian cerita ”Bohim dan Bahar” dan ”Pak Katung” karya Ardisoma. Majalah ini juga memuat rubrik ”Ruangan Sastra”, ”Mari Ketawa”, ”Teka Teki”, ”Belajar Menggambar”, ”Lagu”, dan ”Griya”.

R.A. Kosasih, Ardisoma, dan Johnlo adalah komikus andalan Melodie. Johnlo antara lain membuat komik wayang ”Raden Palasara”, ”Ardisoma” dengan karya ”Ulamsari” dan ”Wayang Purwa”. Sementara R.A. Kosasih dengan seri Ramayana, Mahabharata (40 jilid), Pandawa Seda dan Udrayana. Selain mereka ada AR atau Aloen Ruchijat yang membuat Ciung Wanara, Bambang Aladara (bersama Rosady), Dedy Iskandar, Duddy Supardi, Darja Sutisna, Soedomo, Uung Durachman, dan lain-lain.

AYO BACA: Keribetan yang Harus Disiapkan Kalau Ibu Kota Negara Pindah ke Kalimantan

AYO BACA: Wartawan di Balik Kisah Nyata Sinetron ”Sayekti dan Hanafi"

Langkah Melodie diikuti Cosmos, pada 1954. Mula-mula Cosmos menerbitkan komik Piring Terbang karya Oerip. Untuk seri wayang dan hikayat ada seri Sasaka. Komikus-komikusnya antara lain Abdulsalam dengan karyanya Prabu Mundingwangi (1955), Bagaimana Kota Banyuwangi Mendapatkan Namanya, Asal Terjadinya Desa Karuman (edisi 10), dan Hikayat Dewi Kembang Melati (edisi 5). Kemudian Oerip menggunakan cerita Moech A. Affandie membuat komik Banjar Manila, Jabang Tutuka, Brajamusti (5 jilid), Gatotkaca Sewu, Arjuna Sasrabahu (20 jilid). Sementara cerita Moech A. Affandie juga jadi komik Pakem Ringgit Purwa dan Gedung Sadasa oleh Afif Abdullah serta Bandung Bandawasa oleh Sudarmo.

Melalui keterangan tertulisnya (11/9/2019), Kang Sam antara lain menyebutkan bahwa, ”Komik wayang di Bandung pada periode itu mungkin mencapai puncaknya pada karya R.A. Kosasih dengan Mahabharata (40 jilid), Ramayana (10 jilid), Panjisemirang (20 jilid); Ardisoma dengan Wayang Purwa (22 jilid). Di pihak Cosmos, Arjuna Sasrabahu (25 jilid) karya Moech Affandi dengan pelukisnya Oerip. Sebelumnya ada Banjaran Gatotkaca (Jabang Tutuka, Brajamusti dan Gatutkaca Sewu) sekitar 20 jilid.”

Selain itu, Kang Sam menyatakan bahwa Cosmos pernah membuat kisah atau cerita rakyat dengan pelukis nasional/maestro Abdulsalam. Hal ini tentu saja merupakan semacam catatan penting bagi perkembangan komik di Bandung.

Selain kedua penerbit ini, di Bandung tumbuh pula beberapa penerbit komik lainnya seperti Sipatahunan, Penerbit Sepakat, dan Umar Mansoor. Penerbit Umar Mansoor sempat menerbitkan majalah Gembira yang memuat komik, bahkan menyelenggarakan lomba komik. Selanjutnya, menerbitkan pula seri Komik Gembira, di antaranya cerita Propesor Sulito (No. 1) karya Yus, Biji Kacang Ajaib (No. 3, Kusmihady), dan Rimba Hantu (BST), Peti Maut (BST), Tamil dari Bintang Mars (Yus), dan Perbata di Negara Rimbayana (AR).

Ramayana

Sepuluh jilid komik Ramayana karya R.A. Kosasih, terbitan Toko Melodie antara 1954-1955. (Sumber: patinantique.blogspot.com)***

Pada tahun 1963, Maranatha digagas oleh pemilik toko buku dan penggemar komik Marcus Haddy di kawasan Kopo. Setelah Marcus meninggal, sejak 1991, Maranatha dilanjutkan oleh istrinya, Erlina Tan. Marcus mencetak lagi komik-komik yang pernah diterbitkan oleh Melodie dengan meminta kepada R.A. Kosasih dan komikus lainnya untuk menggambar ulang karya-karyanya untuk Melodie, dengan maksud untuk dijual di tokonya.

Saat pindah ke Jalan Ciateul, Bandung, pada 1971, Maranatha menjadi salah satu sentra komik Indonesia pada dasawarsa 1970-1980-an. Setiap tahunnya, Maranatha mencetak 24 karya klasik untuk disebarkan ke toko-toko buku yang ada di Indonesia. Komikus-komikus yang karyanya diterbitkan Maranatha adalah R.A. Kosasih, Kus Bram, U. Syah, Tatang S., Har, San Wilantara, Rio Purbaya, Shanty Sheeba, serta Rim dan Dewi.

Sekarang Maranatha yang berganti nama menjadi Penerbit Erlina ini masih menjual komik dengan mencetak ulang karya-karya R.A. Kosasih, komik superhero Labah-labah Merah karya Kus Bram, cerita silat karya U. Syah, komik cerita rakyat, komik humor Petruk-Gareng karya Tatang S., komik saduran kisah HC. Andersen, dan komik-komik sisa percetakan masa lalunya.

AYO BACA: Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota

AYO BACA : Sejarah Kebun Binatang Bandung Tahun 1930-an

AYO BACA: Kemajuan Indonesia dalam Menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca

Tentang Maranatha, Kang Sam mencatat, “Pada 1970-an sudah dimuat tentang Maranatha. Waktu itu ngetrend ‘cerita anak’ karya HC Andersen. Semua memakai nama HC Andersen, bahkan mungkin cerita si Kabayan juga jadi karya HC Andersen. Berbarengan dengan itu muncullah kisah superhero lokal yang diterbitkan Maranatha. Memang Kosasih dan pelukis lama lainnya membuat komik baru yang mutunya jauh lebih jelek dari masa keemasannya, juga kertas dan tintanya, yang melumuri tangan. Sayang mungkin umur juga berpengaruh. Yang dilakukan Maranatha lainnya adalah mengganti ejaan lama ke ejaan baru, yang asal-asalan. Hanya mengganti ‘tj’ jadi ‘c’, ‘dj’ jadi ‘j’ dan ‘j’ jadi ‘y’ saja … sehingga tidak nyaman dibaca, dan tidak laku di kalangan peminat komik atau remaja.”

Ada informasi menarik lainnya dari Kang Sam, ihwal ada masanya tren membuat komik Bandung yang berubah dan berkiblat ke roman-roman terbitan Jakarta.

”Tren beralih ke komik roman dari Jakarta, yang kadang-kadang mengarah ke ‘sex’ menurut kacamata penguasa waktu itu, sehingga semua (repeat) komik digolongkan jelek dan harus dibredel serta untuk membuat komik harus dengan izin Penguasa Pelaksana Dwikora Daerah (Pepelrada) kemudian baru polisi,” demikian keterangan Kang Sam.

Komik di Kota Bandung Mulai Menggeliat Lagi

Setelah memasuki fase kurang produktif, perkembangan komik di Bandung mulai menggeliat lagi pada pertengahan tahun 1990-an, yaitu saat digelar Pasar Seni ITB tahun 1995. Hal ini seiring dengan masuknya pengaruh subkultur indie ke Indonesia. Pada perhelatan tersebut, dari Bandung muncul majalah Qomik Nasional (QN), yang digagas oleh mahasiwa ITB. Dari QN muncul komik Caroq yang dikerjakan Ahmad Thoriq (Thoriq) dan Kapten Bandung oleh Anto Motulz.

Selain QN, pada tahun 1990-an, dengan orientasi komik Jepang, Amerika, Eropa, termasuk dengan konsep novel grafis, para pegiat komik di Bandung mendirikan studio-studio komik. Di antaranya Studio Ajaib, Studio Majik, Molotov-indie komik, Bajing Loncat (Balon), dan Komik Hijau.

Perkembangan tersebut yang antara lain memicu diselenggarakannya Pekan Komik Nasional (PKN) oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1997), pembentukan Masyarakat Komik Indonesia (15 Maret 1997), dan Kajian Komik Amerika (KKA) di Jakarta, serta Pekan Komik Nasional (PKN) di Stasiun Gambir (1997), di Sastra Universitas Indonesia, Depok (April 1999), serta Agustus 1999 di ITB, Bandung.

Di bidang industri penerbitan buku, sejak 1997, penerbit Mizan di Bandung melalui divisi Dar! (Divisi Anak dan Remaja!) Mizan mulai menerbitkan komik. Hingga awal tahun 2000-an, divisi Mizan ini telah menerbitkan lebih dari 25 penulis, 20 studio, dan 20 ilustrator.

Memasuki tahun 2000-an, komunitas komik di Bandung juga tumbuh mekar, baik komunitas komik kampus maupun nonkampus, seperti Comic Management School (CMS), Funco Unikom, Kosmik ITHB, STSI, Keraton Komik ITB, Komunitas Komik Itenas dan Pakomar Maranatha, Komunitas Cergam Bandung Menyala (KCB) yang berubah menjadi Komikara sejak 2010.

Kegiatan yang berkaitan dengan komik pun menjadi hidup. Contohnya, Keluarga Mahasiswa Seni Rupa ITB yang menyambut Pasar Seni 2006, mengadakan acara ”Komik Badag” pada 19-21 Agustus 2006. Kemudian sejak 2009 terselenggara Pasar Komik Bandung yang digagas oleh komunitas komik Komikara. Untuk Pasar Komik Bandung ketiga (2014), Komikara bekerja sama dengan komunitas lainnya. Untuk kali kelimanya (2016), Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif yang menginisiasi terbentuknya Forum Komik Bandung yang kemudian mendorong diselenggarakannya Pasar Komik Bandung ke-5.

Barangkali catatan saya ini, belum mencakup keseluruhan fenomena penerbitan komik di Bandung. Bisa jadi ada yang luput saya masukkan. Mungkin saja ada yang terlewat tidak saya catat. Misalnya unsur biografis komikusnya atau pertalian antara komikus dengan penulis narasinya, seperti peran yang dilakukan oleh Moech A. Affandie. Betapa pun, tulisan ini barangkali bisa menjadi semacam perkenalan selintas-kilas terhadap sejarah dan perkembangan komik di Bandung.

ATEP KURNIA, Peminat literasi dan sejarah Sunda

AYO BACA: Mengkaji Ulang Konsep Hubungan Seks Nonmarital dalam Disertasi Abdul Aziz

AYO BACA: Peta Jalan Pulang Anak Punk

AYO BACA : Korupsi Jalan Terus, Bagaimana Menghentikannya?

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar