Mereka yang Jadi Cahaya Bagi Kucing Liar

  Sabtu, 17 Agustus 2019   Rahim Asyik
Kucing liar (stray cat) atau kucing jalanan yang hidup di perkampungan dan perkotaan masih kerap dipandang buruk oleh banyak orang. Kucing-kucing itu kerap mendapat perlakuan kejam dari manusia. (Pixabay)***

Kucing liar (stray cat) atau kucing jalanan yang hidup di perkampungan dan perkotaan masih kerap dipandang buruk oleh banyak orang. Kucing-kucing itu kerap mendapat perlakuan kejam dari manusia. Ada yang cuma diusir. Namun tak sedikit yang menyertai pengusiran itu dengan aksi fisik menyiram, memukul, menendang, melempar, membakar bahkan membunuhnya. Di tengah situasi itu, ada saja sekelompok orang yang mau menyisihkan pendapatannya untuk memberi makan kucing-kucing liar itu.

STIGMA buruk masih menghinggapi kucing liar (stray cat) atau kucing jalanan yang hidup di perkotaan. Hewan tak bertuan yang kumal dan berkesan jauh dari sehat itu kerap dianggap pencuri makanan dan jorok.

Tak heran kalau kucing-kucing liar itu mendapat perlakuan kejam dari manusia. Mulai dari sekadar diusir, disiram, dilempar, ditendang, dibakar hingga dimakan atau dibunuh.

Namun tak sedikit yang terketuk nuraninya dan menjadi cahaya penolong bagi para kucing liar itu, mulai dari sekadar memberi makan hingga merawatnya, menjadikannya kucing rumahan.

Vero adalah salah seorang yang menjadi sumber cahaya bagi kucing-kucing liar itu. Wanita ini rutin membeli dan memberi makanan bagi kucing-kucing tak bertuan yang ditemuimua di jalanan. Vero kerap membagikan kegiatannya itu lewat media sosialnya.

Kepedulian Vero terhadap kucing liar terjadi secara tak sengaja. Saat sedang menunggu bus di Halte Slipi, Vero melihat seekor anak kucing liar tengah mengorek sisa makanan di tong sampah. ”Sejak itu ada yang mengusikku bahwa manusia bukanlah satu-satunya makhluk hidup yang bertahan hidup tiap harinya. Dan semesta ini bukan soal manusia saja,” ujar Vero mengisahkan motivasinya memberi makan kucing-kucing jalanan.

Wanita yang bekerja sebagai novelis itu dulunya bukan penggemar kucing. Lantaran pernah trauma, Vero mengaku takut pada makhluk kecil berbulu itu. Namun nuraninya terketuk dan menjadikannya berani untuk menjadi cahaya bagi makhluk berbulu itu. Setidaknya untuk memastikan mereka tidak sulit mencari makan untuk bertahan hidup.

Berbeda dari Vero yang awalnya takut dengan kucing, Bintang yang juga melakukan street feeding mengaku penyuka kucing. ”Aku suka kucing baru sekitar 4 tahun terakhir. Yang punya kucing awalnya adikku. Akhirnya karena punya, aku jadi main bareng dan ikut suka,” kata Bintang mengutarakan awal mula kisahnya jatuh hati pada kucing.

Bintang adalah seorang stand-up comedian. Bintang mengaku awalnya memberi kucing makanan sisa. Namun setelah tersadar bahwa kucing juga butuh nutrisi, Bintang secara khusus membeli makanan kucing.

AYO BACA : 9 Cara Menjaga Anjing Anda Agar Tetap Bersih dan Harum

AYO BACA: Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota

AYO BACA: Asal-Usul Mengompol dan Cara Mencegahnya

Memberi Makan Kucing Liar Mendapat Kepuasan Batin Tersendiri

Selain Vero dan Bintang ada juga Erda yang sudah 3 tahun terakhir ini rutin memberi makan kucing-kucing liar. Erda bahkan membuat akun khusus di media sosial untuk mengedukasi masyarakat agar mengikuti gerakan serupa. ”Ada kepuasan batin kayak happy yang tidak bisa dibayar dengan apapun,” ujar wanita berkerudung itu saat menjelaskan alasannya melakukan kampanye gerakan memberi makan gratis bagi kucing jalanan.

Melalui akun @hellocats.id di Instagram, Erda mengaku cukup banyak orang yang akhirnya melakukan kegiatan serupa. Setidaknya memastikan agar semakin banyak kucing-kucing jalanan yang mendapatkan perhatian dari manusia. Setidaknya untuk membantu kucing-kucing liar itu bertahan hidup meski tak menyediakan tempat tinggal.

Kendati banyak yang mendukung kegiatan street feeding seperti yang dilakukan oleh Vero, Bintang, dan Erda, tak sedikit juga yang menyinyiri kegiatan mereka. Beruntung mereka kompak menjawab tak peduli terhadap nyinyiran itu. Toh mereka mendapat kepuasan batin dari menolong kucing-kucing jalanan itu.

Vero malah mengaku, semakin banyak orang yang mencibir justru ia semakin semangat untuk membagikan kegiatannya memberi makan bagi kucing-kucing jalanan di media sosial miliknya. ”Belakangan ini bahkan banyak berita dan konten yang berisi penyiksaan terhadap hewan. Kita harus lawan dengan konten kebaikan terhadap hewan. Buat gerakan ini menjadi sesuatu hal yang lazim untuk dilakukan banyak orang,” ujar Vero.

Serupa dengan Vero, Erda juga tak memedulikan pandangan negatif orang-orang terhadap kegiatannya memberi makan kucing liar. ”Aku sering menemukan saat sedang memberi makan kucing di dekat tempat makan ada orang yang bilang, ’Ngapain sih Mba rajin banget kasih makan kucing, nanti tambah banyak mereka’. Kalau sudah kesal aku jawab, ’Ibadah kita saja yang sehari-hari belum tentu diterima, jadi ini saya lakukan untuk di akhirat’,” kata Erda menceritakan pengalaman dicibir oleh orang yang tidak dikenal karena memberi makan kucing-kucing jalanan itu.

AYO BACA : ​7 Faktor Ini Memengaruhi Tubuh Kalau Anda Kurang Tidur

AYO BACA: Lebaran Betawi: Cara Betawi Mencintai Keberagaman Indonesia

AYO BACA: Wartawan di Balik Kisah Nyata Sinetron ”Sayekti dan Hanafi\"

Tak Surut Menolong Walau Dinyinyiri Banyak Orang

Kecuali dinyinyiri, menolong kucing liar juga butuh biaya lumayan. Erda misalnya, harus merogoh kocek di atas Rp1 juta per bulan untuk membeli makanan kucing. Namun itu tak menyurutkan semangatnya. Lebih-lebih Erda juga kerap melihat banyak orang yang secara tak terduga melakukan hal yang sama dengan Erda.

“Pernah aku lihat ada bapak-bapak sudah tua lagi makan di warung, lalu ada kucing menunggu di bawah kakinya. Aku kira kucingnya akan diusir tapi ternyata malah dibeliin dua ikan utuh. Jadi terharu ketika kucingnya makan dengan lahap,” kata Erda.

Semangat berbagi seperti itulah yang ingin disebarkan oleh Erda dan orang-orang yang melakukan street feeding saat membagikan kisahnya memberi makan kepada kucing liar di ibu kota lewat media sosialnya.

”Bukan buat pamer, sombong atau riya karena sudah berbagi. Tetapi untuk menebarkan inspirasi kepada semua orang bahwa hewan bukan sesuatu yang derajatnya di bawah manusia, melainkan ‘seseorang’ makhluk bernyawa yang juga merasakan lapar dan haus, selayaknya manusia. Dan kita sebagai makhluk yang berakal budi, punya opsi untuk peduli dengan cara street feeding,” kata Vero menjelaskan pentingnya menularkan semangat berbagi kepada kucing jalanan lewat media sosial.

Vero, Bintang, dan Erda berharap agar semakin banyak orang yang peduli dan tertarik menjadi cahaya bagi kucing-kucing liar dan kesadaran bahwa kucing-kucing liar itu bukan masalah melainkan anugerah.

AYO BACA: Merias Jenazah, Cara Gloria Elsa Hutasoit Berterima Kasih kepada Tuhan

AYO BACA: Arti 20 Tahun Merdeka Bagi Bekas Warga Timor Timur yang Pro-Indonesia

AYO BACA: Jangan Biarkan Anak Belajar tentang Seks dari Temannya atau Internet

AYO BACA : Plastik Oxo Beda dengan Bioplastik dari Singkong Asli

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar