Arti 20 Tahun Merdeka Bagi Bekas Warga Timor Timur yang Pro-Indonesia

  Sabtu, 17 Agustus 2019   Rahim Asyik
Seorang pelajar berpose di depan sekolah darurat di SDN Onitua, Desa Tesabela, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang, NTT (13/8/2019). Sekolah negeri yang didirikan tahun 2013 itu masih berlantai tanah, beratap daun lontar dan berdinding pelepah pohon lontar (bebak). Kehidupan yang kurang lebih sama memprihatinkannya dialami warga Timor Timur yang dulu memilih bergabung dengan Indonesia di Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. (Kornelis Kaha/Antara Foto)***

Saat referendum digelar di Timor Timur, sejumlah warga memilih bergabung dengan Indonesia. Mereka kemudian harus keluar dari wilayah yang kemudian jadi negara Timor Leste itu. Mereka tinggal di sebuah kamp di Desa Noelbaki. 20 tahun berlalu, nasib mereka tak kunjung membaik. Kecewakah mereka?

NOELBAKI hanyalah sebuah desa kecil di wilayah Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Desa itu adalah tempat tinggal mereka, warga Timor Timur yang memilih bergabung dan menjadi warga negara Indonesia ketimbang jadi warga negara Timor Leste.

Mereka memilih tetap menjadi bagian dari Indonesia setelah Timor Timur meraih kemerdekaannya pada 20 Mei 2002 lewat sebuah referendum yang digelar pada 30 Agustus 1999.

Permukiman Noelbaki itu tampak sempit. Namun tak mengurangi keceriaan warga. Sejumlah bocah tampak bahagia berkejaran dengan sepeda di bawah garangnya matahari timur sambil berteriak-teriak, "Merdeka! Merdeka!"

"Ini bukti bahwa kami sangat mencintai Indonesia dan merah putih," kata Joao Magno de Araujo. Joao adalah veteran Seroja yang pada 1995 dinobatkan Menteri Pertahanan dan Keamanan Jenderal Edy Sudradjat (menjabat 17 Maret 1993–14 Maret 1998) menjadi Pembela Kemerdekaan RI.

Rasa cinta yang tulus terhadap Indonesia itulah yang membuat Joao harus mengambil keputusan untuk membawa semua keluarganya mengungsi ke Kupang, di wilayah Timor bagian barat Nusa Tenggara Timur, untuk tetap menjadi WNI. "Kami ke sini (Kupang) karena berbeda ideologi politik dengan kelompok prokemerdekaan Timor Timur. Rasa cinta kami terhadap Indonesia, Pancasila, dan Merah Putih, sulit kami urai dengan kata-kata," kata Joao.

AYO BACA: Harga Rumah Tahan Gempa Tipe 36 Antara Rp35 Juta Sampai Rp47 Juta

AYO BACA: Memaknai Pertemuan Joko Widodo-Prabowo Subianto

Sejak 1 September 1999, Joao bersama keluarganya serta ratusan warga Timor Timur lainnya memilih Desa Noelbaki di wilayah Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang sebagai tempat tinggal mereka. "Kami bangun permukiman di sini, di atas sebidang tanah untuk ditempati sampai saat ini bersama warga Timor Timur lainnya," kata Joao.

AYO BACA : Asal Kata Merdeka: dari Mardijker, Maharddhikeka atau Mardika?

Hingga saat ini, mereka yang mendiami Kamp Noelbaki berjumlah sekitar 570 kepala keluarga dari sekitar 5.106 KK yang menyebar di berbagai daerah di Nusa Tenggara Timur.

Sudah 20 Tahun, Kehidupan Warga di Kamp Noelbaki Masih Memprihatinkan

Dinamika kehidupan warga di Kamp Noelbaki itu memang masih tampak memprihatinkan meski sudah 20 tahun tinggal di sana. Tepatnya setelah jajak pendapat di wilayah bekas koloni Portugis itu. Hak-hak mereka sebagai warga negara masih jauh dari terpenuhi.

"Kami merasa seperti tidak mendapat hak yang sama sebagai warga negara. Kami tidak punya tanah sehingga sulit untuk berkebun demi kelangsungan hidup keluarga kami di sini," katanya.

Joao yang juga Ketua Komite Nasional Korban Politik Timor Timur, Dewan Pimpinan Daerah Kabupaten Kupang itu merasa telah kehilangan masa depannya bersama saudara-saudaranya dari Timor Timur yang telah memilih menjadi WNI.

AYO BACA: 7 Aspek Ini Membuat Kalimantan Selatan Layak Jadi Ibu Kota Negara

AYO BACA: Lika-liku Masalah Sampah di Ibu Kota

AYO BACA : Kemajuan Indonesia dalam Menurunkan Emisi Gas Rumah Kaca

"Kami telah meninggalkan tanah leluhur, kebun, harta benda, serta pusaka adat dan terpisah dari keluarga besar Timor Timur karena rasa cinta kami yang tulus terhadap Indonesia, Pancasila, dan Merah Putih. Namun kami tidak pernah mendapat hak yang sama sebagai WNI," katanya.

Kini, sudah 20 tahun lamanya mereka hanya bisa merenda hari-hari untuk menatap dan memaknai kemerdekaan yang diraih Indonesia 74 tahun yang lalu itu dalam kondisi yang serbaterbatas.

Ada banyak hal yang mereka lakukan, antara lain menjadi buruh dan tukang bangunan di Kabupaten Kupang untuk mendapat satu dua sen demi kelangsungan hidup mereka. Jika mereka berkebun pun, hanya menumpang di atas lahan penduduk lokal, kemudian membagi hasil saat panen tiba.

"Kami seperti terombang-ambing ibarat kapal di tengah hantaman gelombang di lautan lepas," kata Nyonya Joao menambahkan.

Tak heran kalau Calisto da Costa Gomes, anggota Komite Nasional Korban Politik Timor Timur, berharap adanya perubahan sikap dan kebijakan politik pemerintah Indonesia pada hari kemerdekaan ini. Misalnya dengan memberi mereka lahan untuk digarap.

"Mungkin ini makna kemerdekaan yang lebih berarti bagi kami yang hidup di Kamp Noelbaki saat ini. Meski hidup susah di tanah rantau, kami tetap mencintai Indonesia, Pancasila, dan Merah Putih sesuai dengan komitmen politik kami," kata Calisto.

"Sesengsara apapun, kami tetap mencintai Indonesia. Tidak pernah terlintas dalam benak pikiran kami untuk melakukan pemberontakan atau menggerakkan orang-orang untuk melawan pemerintah. Indonesia tetap di hati kami," tambahnya.

Pada 30 Agustus 1999 secara resmi Provinsi Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia. Selanjutnya 20 Mei 2002, Timor Timur diakui secara internasional sebagai negara Timor Leste dengan dukungan penuh dari Persatuan Bangsa-Bangsa.

Mayoritas warga Timor Leste pun berpindah kewarganegaraan dan melepaskan status kewarganegaraan Indonesia. Namun tak sedikit yang memilih bertahan dan menetap di Indonesia. "Indonesia itu sudah ada di hati kami, jadi saya lebih memilih menjadi WNI. Di sini saya merasakan kenyamanan dan aman, tingkat kesejahteraannya juga lebih baik. Sedangkan di sana, selalu ada konflik,” ujar Alexander da Costa (48).

Meskipun sudah beda kewarganegaraan, Alexander tetap menjalin komunikasi dengan keluarganya di Timor Leste. Namun dia hanya bisa memendam rasa rindunya di dalam hati. Soalnya, niatnya untuk bertemu keluarga belum kesampaian juga.

AYO BACA: Lebaran Betawi: Cara Betawi Mencintai Keberagaman Indonesia

AYO BACA: Asal-Usul Mengompol dan Cara Mencegahnya

AYO BACA : Nasib Suku Komodo yang Kalah Tenar dari Komodo dan Pulau Komodo

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar