Asal Kata Merdeka: dari Mardijker, Maharddhikeka atau Mardika?

  Rabu, 14 Agustus 2019   Rahim Asyik
Model mengenakan busana kebaya bertema merah putih saat fashion show di tanggul Lapindo Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (13/8/2019), untuk memeriahkan HUT ke-74 kemerdekaan RI. Kata merdeka menjalani sejarah yang panjang, mulai dari maharddhikeka ke mardijker, merdika, merdeheka, mahardika hingga merdeka. (Umarul Faruq /Antara Foto)***

Kata merdeka berasal dari bahasa Sanskerta maharddhikeka. Kata ini muncul dalam wujud mardijker, mardika, mahardika, dan merdeheka. Setelah proklamasi, kata merdeka diberi pengertian baru seperti yang banyak digunakan saat ini.

Dari mana asal kata merdeka? Para pekamus umumnya sepakat bahwa kata merdeka berasal dari bahasa Sanskerta maharddhikeka. Dalam Kamus Indonesia (G. Kolff & Co., Bandung, 1951) Elisa Sutan Harahap menyerapnya menjadi merdehéka.

Artinya, kata Elisa, “orang saleh, pandai agama, diketahuinja jang akan djadi sesudah mati, sebab itu ia mendapat untung kelebihan.” Sedangkan kata merdeka, menurut Harahap, berarti lepas dari perhambaan, tiada terikat pada sesuatu.

Sebaliknya, WJS Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (PN Balai Pustaka, Djakarta, 1966) menganggap yang baku adalah merdeka, bukan merdeheka. Merdeka artinya “bebas (dr perhambaan, pendjadjahan dsb); berdiri sendiri (tidak terikat, tidak bergantung pd sesuatu jg lain); lepas (dr tuntutan).”

Perjalanan maharddhikeka menjadi merdeka tampaknya melalui tiga cara.

Pertama, lewat kata mardijk. Menurut sejarawan Mona Lohanda (lihat “Mayor Jantje dan Unsur Indo-Belanda dalam Musik Rakyat Betawi” dalam novel Burung-burung Walet Klapanoenggal karya Johan Fabricius (Pustaka Azet, Jakarta, 1985), orang mardijk adalah orang merdeka, bukan budak.

Syahdan, pada 1633 hiduplah orang Papang di bagian timur kota tua Batavia. Orang Papang ini diduga berasal dari bangsa Pampango di Luzon. Luzon ini kemungkinan besar di Filipina, meski tak tertutup kemungkinan juga di Portugis mengingat ada daerah bernama Luçon di Portugis.

Orang Luzon ini dikenal sangat militan. Tak heran kalau dijadikan serdadu oleh Spanyol.

Papang ini sekarang menjadi Kelurahan Papanggo di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Nama Papanggo disebutkan berasal dari perkataan Belanda de Papangers alias orang-orang Pampanga atau Pampango.

Tadinya, orang-orang Papang ini merupakan bagian dari kelompok serdadu VOC. Oleh karena atas jasa, pengabdian atau belas kasihan tuannya, mereka dimerdekakan dan kemudian disebut sebagai orang mardijk. Artinya, orang merdeka, bukan budak.

AYO BACA : Tari Thengul: Warisan Intelektual Bojonegoro untuk Dunia

Menurut Mona, orang-orang mardijk tertua masih boleh menggunakan nama Portugisnya seperti De Sousa, de Lima. Pada upacara penasranian mereka, namanya diubah atau ditambahi nama orang yang menjadi saksi penasraniannya. Nama Pieter dari Benggala misalnya, karena penasraniannya disaksikan oleh Matthijs Jansz, namanya berubah menjadi Pieter Jansz.

Kata merdijk ini tampaknya masih berhubungan dengan kata merdika yang digunakan di Jawa Barat. Terlihat dari definisi pertama kata merdika dalam Kamus Basa Sunda (PT Kiblat Buku Utama, 2005) karangan R. Satjadibrata. Disebutkan kalau orang merdika bukan budak belian (orang yang dibeli dan dijadikan budak) atau tidak diganggu baik harta, jiwa, agama, dan sebagainya.

Pendapat itu senada dengan yang disampaikan RA Danadibrata dalam Kamus Basa Sunda (PT Kiblat Buku Utama dan Universitas Padjadjaran, 2009). Menurut Danadibrata, kata merdika lebih ditujukan kepada “budak belian yang oleh pemiliknya dibebaskan dari status budaknya untuk hidup merdeka”. Sebagaimana diketahui, per 1 Januari 1863 dunia internasional sudah tidak memperkenankan perbudakan lagi. Saat itu banyak budak yang dimerdekakan.

AYO BACA: Gaya Hidup Lari: Antusias Warganya, Tidak Siap Infrastrukturnya

AYO BACA: Merek Tak Harus Logo, Tapi Bisa Berupa Citra atau Pesona Unik

AYO BACA: Angka Pernikahan Rendah, Orang China Nyaman Menjomblo

Kedua, dari kata merdehéka seperti yang disampaikan Elisa Sutan Harahap, yakni “orang saleh, pandai agama, diketahuinja jang akan djadi sesudah mati, sebab itu ia mendapat untung kelebihan.” Hanya mereka yang sudah merdeka yang bisa melepaskan diri dari perhambaan dan tidak terikat pada sesuatu.

Pengertian Elisa itu selaras dengan apa yang disampaikan Elis Suryani NS dan Undang Ahmad Darsa dalam Kamus Bahasa Sunda Kuno Indonesia (Alqaprint Jatinangor, Sumedang, 2003),. Kata mereka, merdeka atau mahardika berarti bebas atau leluasa.

Dari pengertiannya, cikal bakal kata merdehéka atau mahardika di sana tampaknya adalah Kekawin Nitisastra IV. 19 seperti yang disampaikan di sini.

AYO BACA : Inilah Saatnya Berwisata dengan Kepala Penuh Narasi

Dalam kitab tentang kepemimpinan itu, orang yang disebut merdeka adalah orang yang tidak mabuk. Mabuk dimaksud bukan dalam pengertian mabuk naik kendaraan atau minum minuman keras semata. Disebutkan bahwa ada 7 penyebab mabuk, yakni surupa, guna, dhana, kula, kulina, yowana, sura, dan kasuuran atau keindahan rupa, kepandaian, kekayaan, kemudaan, kebangsawanan, keberanian, dan air nira.

“… tan mada maharddhikeka panggarannia sira putusi sang pinandita" atau “barang siapa tidak mabuk karena semuanya itu dialah yang dapat disebut merdeka (mahardika), bijaksana bagaikan Sang Pinandita.”

Orang yang merdeka, dengan demikian adalah orang yang sudah terbebas dari hawa nafsunya. Pada masa lalu, manusia yang masuk ke dalam golongan ini adalah kaum Brahmana, guru agama, penasihat raja atau juru kunci makam. Tak heran kalau kepada mereka diberi tanah perdikan seperti yang dilakukan pada masa Raja Hayam Wuruk. Pemilik tanah perdikan ini biasanya dibebaskan dari kewajiban membayar pajak dan upeti.

Kata perdikan dan merdika ini memiliki induk yang sama, yakni maharddhikeka yang berasal dari bahasa Kawi. Bahasa Kawi ini kerap disebut sebagai bahasa Jawa Kuno padahal bahasa ini terpengaruh bahasa Sanskerta.

Ketiga, kata merdeka tampaknya diberi pengertian baru seturut dengan perkembangan zaman. RR Hardjadibrata misalnya, dalam Sundanese-English Dictionary (PT Dunia Pustaka Jaya, 2003), mengartikan merdéka (merdika) sebagai “free, independent; to feel good, have it good”. Memerdekakan berarti “to free so., give independence”, sementara kemerdekaan bermakna “freedom, independence”.

Definisi yang disampaikan Hardjadibrata ini sama dengan pengertian kata merdeka selepas proklamasi kemerdekaan dan pengertian orang Indonesia pada umumnya saat ini. Definisi Hardjadibrata ini juga sama dengan arti kedua kata merdeka, baik yang menurut Satjadibrata maupun Danadibrata.

Menurut Satjadibrata, bangsa merdeka berarti bangsa yang tidak dijajah oleh bangsa lain. Bangsa ini leluasa memajukan rakyat dan menjaga tanah airnya, punya kekuasaan selayaknya bangsa merdeka lainnya. Demikian halnya menurut Danadibrata yang menyebutkan bahwa merdeka berarti negara yang sudah tidak dijajah oleh negara asing atau sudah mandiri.

AYO BACA: Nasib Suku Komodo yang Kalah Tenar dari Komodo dan Pulau Komodo

AYO BACA: Wisata Cirebon: Lais, Isu Gender, dan Keterlibatan Roh

AYO BACA: Remy Sylado, Gus Mus, dan Mata ke Ranjang

AYO BACA : Sport-artainment: Mengawinkan Olahraga, Seni, dan Hiburan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar