Pasar Digital Indonesia Sumbang 50% Transaksi Belanja Daring Asia Tenggara

  Senin, 22 Juli 2019   Rahim Asyik
Pasar digital Indonesia terus tumbuh dan memberi kontribusi besar di Asia Tenggara. (Pixabay)***

Pasar digital Indonesia tak bisa diremehkan. Dari volume transaksinya tercatat pasar digital Indonesia menyumbang 50% transaksi belanja daring di Asia Tenggara. Kalau tidak dimanfaatkan dengan baik, yang akan diuntungkan oleh angka itu bukan UMKM Indonesia.

BUKITTINGGI, AYOSURABAYA.COM-- Pasar digital Indonesia menyumbang 50% transaksi belanja daring di Asia Tenggara.

"Nilai ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara dan masih sangat mungkin untuk dikembangkan," kata Direktur Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Kemaritiman Kemkominfo RI, Septriana Tangkary di Bukittinggi, Kamis (18/7/2019).

Untuk mengembangkannya bisa dengan mendorong sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah terjun ke pasar digital.

Menurut Septriana, semakin banyak UMKM yang terlibat dalam ekonomi digital lewat pita lebar, bisnis elektronik, media sosial, teknologi awan, dan platform telefon seluler atau ponsel, maka akan bertumbuh lebih cepat dari segi pendapatan dan penyediaan lapangan kerja, serta menjadi lebih inovatif dan lebih kompetitif menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean.

"UKM harus dapat memanfaatkan kesempatan ini agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas. Dengan perkembangan digital yang sangat pesat sudah saatnya Indonesia tidak hanya menjadi target pasar," tutur Septriana.

Data Kemkominfo pada 2018 menunjukkan, 9,61 juta unit UMKM dari 60 juta unit usaha sudah memanfaatkan platform online. Ini bisa terus dikembangkan dengan target pasar penetrasi pengguna internet di Indonesia yang mencapai lebih dari 171,17 juta.

Menurut Septriana, pemerintah telah menyusun Peta Jalan E-Commerce Nasional, hasil kolaborasi lebih dari 8 kementerian dan lembaga pemerintah. Kalau terimplementasikan tepat waktu maka terproyeksikan nilai transaksi E-Commerce sebesar USD130 miliar pada tahun 2020.

AYO BACA : Ilegal, 20% Ponsel yang Beredar di Indonesia

Hal itu bukan tidak mungkin. Soalnya, menurut data Badan Pusat Statistik, kontribusi UMKM terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia mencapai 61,41% dengan jumlah UMKM hampir mencapai 60 juta unit.

Dari segi infrastruktur, Kemkominfo meningkatkan akses internet ke seluruh Indonesia, dari yang di daerah tadinya hanya bisa SMS, sekarang bisa menggunakan layanan internet. Proyek Palapa Ring sudah sampai ke Indonesia bagian Timur.

Mengingat pentingnya edukasi dan pemahaman kepada masyarakat tentang pemanfaatan e-commerce serta meningkatkan kualitas dan daya saing produk UMKM Indonesia., Direktorat Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Maritim menggelar kegiatan Forum Sosialisasi Menembus Era Pasar Digital: Semua Bisa Jualan Online sekaligus peluncuran buku Semua Bisa Jualan Online.

Kegiatan itu berlangsung Kamis (17/7/2019) di Auditorium Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Forum sosialisasi merupakan wadah masyarakat sebagai peserta forum berinteraksi langsung dengan para narasumber terkait tema yang diangkat.

Ronaldo Tan dari Bukalapak Padang pada forum sosialisasi itu memaparkan tips dan trik agar produk UMKM lebih berkualitas sehingga bisa meningkatkan nilai jual produk di marketplace.

Sementara itu, buku Semua Bisa Jualan Online hadir dalam format buku elektronik (ebook) dan dalam bentuk fisik. Buku ditulis oleh tim dari Direktorat Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan Kemaritiman Kemkominfo.

AYO BACA : Indonesia Punya 2.119 Startup, 3 Unicorn dan 1 Decacorn

"Meski sekarang serbadigital, kami tetap sediakan dalam bentuk fisik karena dirasa lebih memudahkan terutama yang belum dekat dengan teknologi," kata Septriana.

Buku Semua Bisa Jualan Online di antaranya berisi persiapan sebelum berjualan, memilih media untuk berjualan, kiat agar produk laris, dan menjaga kelangsungan bisnis.

Menurut Septriana, upaya mendorong pelaku usaha kecil untuk terjun ke pemasaran secara daring menjadi upaya bersama. Setiap daerah punya budaya tersendiri yang melahirkan di antaranya barang kerajinan seperti bordir kerancang, sulaman, dan batik.

"Produk-produk itu kita upayakan bersama masuk pasar digital agar lebih luas pasarnya sekaligus bisa mengenalkan kekayaan daerah. Peran pemerintah daerah juga ada di sini," katanya.

Jika belum memiliki produk sendiri untuk dipasarkan, masyarakat para pengguna telefon pintar masih tetap bisa berbisnis daring yaitu dengan cara menjadi reseller. "Kita sama-sama berusaha agar penggunaan teknologi tidak sekadar untuk mempermudah aktivitas dan komunikasi tapi juga menggerakkan ekonomi rakyat," ujarnya.

AYO BACA: Penerapan Jaringan 5G di Indonesia Menunggu Saat yang Tepat

AYO BACA: Gerakan Nasional 1.000 Startup Digital Dibuka Juli-Desember 2019

AYO BACA: Logo Baru Gojek Bisa Diartikan Macam-macam

AYO BACA : Belanja Lewat Marketplace Lebih Aman. Ini Alasannya

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar