Indonesia Memiliki 2.119 Startup, 3 Berstatus Unicorn dan 1 Decacorn

  Selasa, 02 Juli 2019   Rahim Asyik
Indonesia bercita-cita menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020. (Pixabay)***

Indonesia bercita-cita menjadi negara dengan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- Tiga tahun berlalu sejak kunjungan Presiden Joko Widodo menyampaikan visi Indonesia sebagai negara yang memiliki ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada 2020 dalam ASEAN-US Summit di Amerika Serikat.

Cita-cita tersebut kembali diucapkan ketika Presiden Jokowi berkunjung ke Silicon Valley saat bertemu dengan CEO Plug and Play.

“Saya harap Plug and Play dapat bekerja sama dalam upaya Indonesia mencapai visi ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara yang mencapai USD130 miliar pada 2020,” kata Presiden Jokowi pada 2016, seperti dalam keterangan yang dimuat di laman resmi Sekretariat Kabinet Republik Indonesia.

Empat bulan berselang, Kementerian Komunikasi dan Informatika menggagas Gerakan Nasional 1000 Startup Digital untuk menumbuhkan industri digital di tanah air.

"Kami ingin membuka kesempatan bagi anak-anak muda yang ingin membuat startup, tapi tidak tahu caranya," kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan, kepada Antara baru-baru ini.

Gerakan tersebut digelar di 10 kota besar di Indonesia yang dinilai sudah memiliki infrastruktur koneksi jaringan komunikasi memadai. Sepuluh kota itu yakni Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Bali, Makassar, Semarang, Yogyakarta, Pontianak, dan Malang.

Tiga tahun setelah digagas, Gerakan Nasional 1000 Startup Digital kembali hadir dengan semangat baru dengan moto “seribu mimpi, seribu karya, dan satu Indonesia Raya”.

Pemerintah akan memperluas jangkauan wilayah kota dari 10 menjadi 15. Selain itu, mekanisme keikutsertaan perusahaan-perusahaan rintisan itu dalam tahapan program di Gerakan 1000 Startup pada 2019 juga berbeda.

Perusahaan Startup Harus Menempuh Berbagai Tahapan

Sebelumnya pada 2016, Kominfo mewajibkan startup untuk ikut dari tahap awal yaitu Ignition. Tahapan awal itu bertujuan memberikan pemahaman mengenai kewirausahaan dan penajaman masalah yang ingin dipecahkan.

Setelah melalui Ignition, peserta akan masuk ke tahap Networking untuk membentuk tim, Workshop untuk pembekalan keahlian dasar, kemudian dilanjutkan dengan Hacksprint, Bootcamp, dan Incubation.

AYO BACA : Belanja Lewat Marketplace Lebih Aman. Ini Alasannya

Pada 2019, startup dapat memilih tahapan yang sesuai dengan perkembangan usaha mereka dan menyampaikan apa saja yang sudah mereka capai sebelum mengikuti Gerakan Nasional 1000 Startup Digital.

Kominfo meyakini mekanisme baru Gerakan 1000 Startup itu akan lebih tepat sasaran karena perusahaan rintisan akan mendapatkan pelatihan sesuai dengan kebutuhan mereka.

Sejak digagas pada 2016 dan berjalan hingga akhir 2018, Gerakan Nasional 1000 Startup Digital melahirkan 584 startup peserta, yang disaring dari hampir 40.000 pendaftar.

Pemerintah juga menyiapkan program lanjutan untuk perusahaan rintisan yang sudah keluar dari program inkubasi. Dalam program bernama Next Indonesian Unicorn atau Nexticorn itu, startup akan dipertemukan dengan calon investor.

"Kami bantu kurasi, lalu mengenalkan mereka ke investor," kata Semuel.

Semuel mengatakan upaya startup untuk mendapatkan pendanaan pada tahap awal tidak begitu sulit karena umumnya pemodal tidak keberatan untuk berinvestasi dalam risiko rendah, misalnya 100.000 hingga satu juta dolar AS.

Namun begitu memasuki angka yang besar, misalnya 5 juta dolar AS, perusahaan rintisan harus mampu meyakinkan para investor tentang perkembangan usaha mereka dalam jangka panjang.

Program kerja Kominfo itu telah mengadakan dua Nexticorn Summit pada 2018 untuk mempertemukan perusahaan rintisan lokal dengan venture capital dari luar negeri.

Sejak diumumkan pada 2017 hingga akhir 2018, terdapat 108 perusahaan rintisan yang mengikuti program Nexticorn.

Kementerian dan Lembaga Harus Bersinergi dan Didukung Infrastruktur

Pertumbuhan gerakan-gerakan startup di Indonesia mendorong kementerian dan lembaga negara untuk bersinergi, baik antar-kementerian maupun lembaga dan dengan perusahaan. Sinergi dibutuhkan agar program itu dapat menjangkau lebih banyak wilayah dan calon wirausahawan di Indonesia.

Sinergi tersebut dapat berupa pembagian wilayah cakupan atau pembagian sektor startup, misalnya perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas dapat memperkuat startup dalam bidang energi.

AYO BACA : Penerapan Jaringan 5G di Indonesia Menunggu Saat yang Tepat

Sinergi juga dibutuhkan karena Indonesia masih menghadapi kendala jaringan yang belum merata di seluruh wilayah. Tapi, pemerintah tidak pernah berhenti untuk terus membangun infrastruktur jaringan di tempat-tempat yang belum dibangun oleh operator telekomunikasi.

"Infrastruktur jaringan menjadi prasyarat, harus ada untuk mendukung ekonomi digital," kata Direktur Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos Kominfo Ismail.

Salah satu program utama pemerintah untuk menyediakan infrastruktur jaringan adalah pembangunan jaringan tulang punggung Palapa Ring.

Palapa Ring dibagi menjadi paket barat, tengah, dan timur, yang menyebar di seluruh wilayah Nusantara. Pemerintah telah menyelesaikan infrastruktur Palapa Ring Barat dan Palapa Ring Tengah.

"Palapa Ring Timur sedang finalisasi. Akhir 2019 nanti, seluruh kabupaten/kota di Indonesia terhubung dengan jaringan pita lebar (broadband)," kata Ismail.

Bukan hanya Palapa Ring, pemerintah juga memiliki proyek satelit multifungsi (high throughput satellite) bernama Satria untuk menghubungkan wilayah-wilayah yang tidak terjangkau kabel jaringan Palapa Ring. Satelit Satria diprediksi akan siap beroperasi pada 2023.

Jika seluruh Indonesia sudah terhubung dengan jaringan Internet, menurut Ismail, perusahaan rintisan di berbagai tempat dapat terhubung ke jaringan broadband maupun narrowband untuk mendukung perkembangan mereka.

Indonesia Punya 2.119 Startup, 3 di Antaranya Berstatus Unicorn dan 1 Decacorn

CEO Bukalapak Achamd Zaky menilai ekonomi digital Indonesia berkembang ke arah yang baik, sektor jasa perdagangan dalam jaringan (e-commerce) tumbuh hingga tiga kali lipat pada 2018.

"Saya pikir sektor online akan tumbuh jauh lebih cepat daripada offline," kata Zaky.

Salah satu indikasi baik pertumbuhan ekonomi digital di Indonesia adalah jumlah perusahaan yang menyandang status unicorn. Indonesia telah memiliki empat startup dengan valuasi satu juta dolar AS yaitu Bukalapak, Gojek, Traveloka, dan Tokopedia. Gojek bahkan sudah menyandang status decacorn pada 2019 dan Bukalapak mengaku dapat mengejarnya.

Pertumbuhan startup Indonesia di kawasan Asia Tenggara pun cukup signifikan. Data Bain & Company pada akhir 2018 menunjukkan terdapat 10 perusahaan rintisan unicorn di ASEAN.

Empat unicorn berasal dari Indonesia dan empat unicorn lainnya berasal dari Singapura yaitu Grab, Sea, Lazada, dan Razer. Sementara Vietnam dan Filipina masing-masing menyumbang satu startup unicorn yaitu VNG dan Revolution Precrafted.

Zaky berharap Indonesia tidak berada dalam zona nyaman meskipun ekonomi digital sudah berkembang ke arah yang tepat. Dia berharap akan lebih banyak unicorn dan decacorn yang tumbuh.

"Mungkin 5 decacorn, 15 unicorn. Mungkin itu akan lebih baik lagi. Jangan berhenti di sini," katanya

Merujuk pada laman pendaftaran perusahaan rintisan di situs Startup Ranking, Indonesia telah memiliki 2.119 startup. Sedangkan hasi survei Masyarakat Industri Kreatif Teknologi Informasi dan Komunikasi Indonesia dalam buku Mapping & Database Startup Indonesia 2018 menyebut terdapat 992 perusahaan rintisan yang tersebar di seluruh Indonesia.

AYO BACA : Bukalapak Startup Nomor 1 di Indonesia

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar