Beban Kerja 20-22 Jam Sehari dan Penyakit Sebabkan Sakit dan Matinya Petugas Pemilu

  Selasa, 25 Juni 2019   Rahim Asyik
Ketua KPU Arief Budiman (kedua kanan) bersama Tim Kajian Lintas Disiplin bersiap memberikan keterangan kepada wartawan tentang Hasil kajian lintas disiplin atas meninggal dan sakitnya petugas KPPS Pemilu 2019, di Media Center KPU, Jakarta, Selasa (25/6/2019). Tim Kajian Lintas Disiplin Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut penyebab sakit dan meninggalnya para petugas Pemilu 2019 di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dilatarbelakangi beban kerja petugas KPPS yang tinggi dan riwayat penyakit yang dimiliki. (Re

Sakit dan meninggalnya para petugas pemilu merupakan kejadian alamiah yang tidak ada kaitannya dengan kecurangan. Kematian petugas lebih karena beban kerja yang terlalu berat dan riwayat penyakit sebelumnya.

JAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- Tim peneliti dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengungkapkan kesakitan dan kematian para petugas Pemilu 2019 merupakan kejadian alamiah. Dengan demikian, tidak ada kaitannya dengan dugaan kecurangan, melainkan karena disebabkan oleh beban kerja yang terlalu berat dan riwayat penyakit sebelumnya.

"Yang ingin digarisbawahi bahwa sakit dan kematian petugas KPPS itu tidak semua terkait dengan proses pencoblosan tanggal 17 April sehingga tidak ada alasan sama sekali untuk mengkaitkannya dengan kecurangan pemilu," kata Koordinator Kajian Lintas Disiplin UGM, Abdul Gaffar Karim di Gedung KPU, Jakarta, Selasa (25/6/2019).

Soal tingginya beban kerja diungkapkan peneliti dari Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM, Riris Andono Ahmad.

“Temuan utama adalah beban kerja yang ada di masing-masing TPS (tempat pemungutan suara). Yang kami ukur adalah waktu kerjanya, ada empat kegiatan utama yakni penyiapan dan distribusi surat suara, penyiapan TPS dan pelaksanaan pemilu,” kata Riris.

Beban kerja tersebut berkisar 20 hingga 22 jam pada hari pelaksanaan pemilu dengan perincian 7,5 hingga 11 jam untuk mempersiapkan TPS, 8 jam hingga 48 jam untuk mempersiapkan dan mendistribusikan undangan.

Riris memaparkan terdapat sekitar 30% petugas TPS di DIY melaporkan adanya kejadian yang mengganggu jalannya pemilu. Sedangkan 20% terkait dengan administrasi yang rumit, perhitungan suara dan pengetahuan petugas terkait teknis.

AYO BACA : Ayo Media Network Perangi Hoaks dengan Cek Fakta

Selain beban kerja saat pemilu, Riris juga menyoroti ada beberapa petugas yang masih bekerja paruh waktu di luar perannya sebagai petugas pemilu. “Beberapa petugas TPS masih melakukan pekerjaannya seperti biasa sehingga menyebabkan beban kerjanya makin tinggi,” tutur Riris.

Dijelaskan Riris, seluruh petugas pemilu yang meninggal di Yogyakarta semua berjenis kelamin laki-laki dengan 80% memiliki riwayat penyakit kardiovaskular, dan tidak ditemukan indikasi kekerasan maupun kejadian tidak wajar.

"Mereka yang meninggal usianya rerata 50 tahun dan rentang usianya 46 hingga 67 tahun. Semua kasusnya adalah laki-laki. Kejadian tertinggi di Kabupaten Sleman. 80% mempunyai riwayat penyakit diabites melitus, hipertensi, jantung, dan 90% adalah perokok," ungkap Riris.

Menurut Riris salah satu tantangan dalam penyelenggaran pemilu serentak 2019 adalah sulitnya mendapatkan petugas pemilu yang memiliki kondisi kesehatan yang baik.

"Kita untuk mendapatkan petugas saja sudah sulit, apalagi mendapatkan petugas yang benar-benar sehat. Selama ini kita hanya mengacu pada surat keterangan sehat yang artinya itu klaim dari mereka sendiri," ujar Riris.

Ia pun menyarankan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh bagi setiap calon petugas untuk penyelenggaran pemilu selanjutnya

Para peneliti UGM telah melakukan survei untuk mengkaji penyebab kesakitan dan kematian para petugas pemilu. Dalam survei yang menggunakan metode random sampling tersebut, UGM memilih 400 TPS dari 11.781 TPS di DIY untuk digunakan sebagai sampel.

AYO BACA : Pendaftaran Calon Pimpinan KPK Sampai 4 Juli 2019

Survei dilakukan dengan metodologi verbal otopsi atau metode menggali kronologi peristiwa dan wawancara tanda gejala mereka yang meninggal, kemudian dikonstruksikan penyebab kematiannya oleh dokter spesialis kedokteran forensik.

Berdasarkan temuan survei, penyebab atau meningkatnya risiko terjadinya kematian atau kesakitan petugas diduga karena riwayat penyakit kardiovaskular yang sudah dimiliki, beban kerja petugas yang sangat tinggi sebelum, selama, dan sesudah hari pemilihan, adanya kendala terkait bimbingan teknis (bimtek), logistik, dan kesehatan.

Menurut data dari KPU RI tanggal 4 Mei 2019, jumlah petugas Pemilu 2019 yang meninggal sebanyak 440 orang, sedangkan petugas yang sakit 3.788 orang. Sedangkan data Kemenkes hingga 15 Mei 2019 menyebutkan terdapat 498 jiwa petugas KPPS (Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara) meninggal yang tersebar di 24 provinsi.

Koordinator Kajian Lintas Disiplin UGM, Abdul Gaffar, menjelaskan, temuannya itu merupakan data awal dan belum bisa dijadikan sebagai bahan rekomendasi untuk KPU maupun lembaga legislatif terkait peraturan perundang-undangan pemilu.

Di sisi lain, tim peneliti dari UGM juga menilai lemahnya manajemen krisis menjadi masalah bagi petugas KPPS dalam Pemilu 2019 sehingga menyebabkan beberapa petugas sakit bahkan meninggal.

“Manajemen krisis tidak berjalan baik di lapangan sehingga ketika ada masalah di luar yang direncanakan, para petugas tidak tahu bagaimana cara menindaklanjutinya. Ketika ada petugas yang sakit tidak ada yang tahu mekanisme untuk menanganinya sehingga berujung pada kematian,” kata Abdul Gaffar Karim.

Penyelenggaraan pemilu, menurut Abdul, tidak seharusnya memunculkan masalah sakit dan meninggalnya petugas jika gangguan saat pemilu dapat diantisipasi dengan manajemen bimbingan yang lebih baik.

Tim Peneliti UGM pun merekomendasikan untuk memperkuat manajemen krisis dalam pemilu di Indonesia untuk diterapkan pada penyelenggaraan pilkada serentak 2020.

Selain itu, mereka juga mengharapkan KPU dapat memberikan pelatihan yang lebih optimal kepada petugas sehingga tidak menyebabkan kebingungan saat bertugas.

AYO BACA : Urbanisasi Berkelanjutan Bukan Pilihan, Tapi Keharusan

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar