Tahun 2025, Indonesia Punya Mobil Listrik Sendiri

  Minggu, 23 Juni 2019   Rahim Asyik
Peluncuran mobil listrik Garuda UNY, Jumat (21/6/2019). (www.uny.ac.id)***

Dengan disokong pemerintah, sejumlah perguruan tinggi bahu membahu melakukan percepatan bagi lahirnya mobil listrik. Targetnya, 2025 Indonesia sudah punya mobil listrik sendiri.

YOGYAKARTA, AYOSURABAYA.COM-- Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir berharap Indonesia sudah mampu memproduksi mobil listrik sendiri pada 2025.

"Harapannya di tahun 2025 Indonesia sudah mempunyai mobil listrik sendiri," kata Nasir seusai acara Peluncuran Mobil Listrik dan Pagelaran Wayang Dies Natalis UNY di Halaman Rektorat UNY, Jumat (21/6/2019) malam. Berita dan foto bisa dilihat di sini.

Di Universitas Negeri Yogyakarta itu, Mohamad Nasir meluncurkan prototipe mobil listrik garuda karya Tim Mobil Garuda dari Fakultas Teknik UNY. Mobil berukuran panjang 2,8 meter dan lebar 1,5 meter. Mobil ini dapat menempuh jarak 70 kilometer per dua jam, berdaya 10 kW dengan 90% komponen lokal.

Nasir menuturkan mobil listrik adalah mobil masa depan karena mengusung hemat energi, ekonomi hijau, dan menghindari polusi udara. Bahkan sejumlah negara di dunia yang telah dan sedang mengembangkan mobil listrik, dan dunia akan bergerak untuk menciptakan kendaraan yang bebas polusi.

Untuk itu, Indonesia harus terus meningkatkan inovasi di bidang kendaraan listrik dan ramah lingkungan.

AYO BACA : Scarabée, Mobil Militer yang Bisa Berjalan Seperti Kepiting

Menurut Nasir, kolaborasi triple helix antara perguruan tinggi, pemerintah dan industri menjadi kunci untuk mewujudkan Indonesia memiliki mobil listrik 2025 yang bisa diproduksi massal.

"Ini sebenarnya tinggal bangun secara bertahap untuk kolaborasi dengan industri. Sekarang masalah spare part (onderdil), maka untuk spare part harus kita gandeng industri yang menghasilkan komponen," kata Nasir.

Kendati demikian, untuk menuju ke sana masih terkendala masalah baterai. Apalagi untuk total pembiayaan produksi mobil listrik, baterai memiliki porsi mencapai 30-35%. "Ini yang masih cukup signifikan nilainya maka bagaimana riset di bidang baterai harus kita kembangkan terus," kata Nasir.

Saat ini, Universitas Sebelas Maret (UNS), Surakarta sedang mengembangkan baterai lithium. Indonesia juga sedang mengembangkan teknologi untuk memproses bahan baku lithium di Halmahera dan plat nikel untuk baterai di Morowali sehingga ketahanan baterai akan lebih tinggi.

Kawasan industri terpadu yang memproduksi baterai mobil listrik yang berlokasi di Halmahera, Maluku dan Morowali, Sulawesi Tengah yang ditargetkan mulai berproduksi pada 2021-2022.

"Kalau nanti di Morowali dan di Halmahera sudah jadi, bahan baku dari situ. Maka sudah ada baterai lokal dari Indonesia. Ini akan menghemat harga satu kendaraan mobil listrik," kata dia.

AYO BACA : Mobil Buatan Vietnam, VinFast, Mulai Mengaspal Senin (17/6/2019)

Pemerintah juga sudah mendorong kebijakan terkait insentif yang diberikan kepada industri yang akan menghasilkan mobil atau motor listrik, berupa super tax deduction atau pengurangan pajak yang berlipat bagi para industri yang mengembangkan teknologi baru, khususnya di bidang kendaraan listrik.

Peraturan presiden terkait super tax deduction tersebut sedang menunggu ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo.

"Kalau ini (super tax deduction) sudah jalan, industri akan bisa mengembangkan itu, sehingga kerugian-kerugian terhadap riset itu bisa di-cover dengan pajak yang dikembalikan nanti kepada para produsen," tuturnya.

Nasir mengatakan, baterai lithium tersebut ditargetkan sudah dapat diproduksi lokal pada 2022.

"Kami setiap tahun memberikan anggaran untuk mobil listrik sekitar Rp100 miliar, yang kami anggarkan untuk mendorong riset di bidang mobil listrik," tuturnya.

Sekolah menengah kejuruan juga bisa ikut berpartisipasi menghasilkan komponen mobil listrik.

Nasir mendorong berbagai upaya untuk percepatan perwujudan mobil listrik nasional. Saat ini, telah ada konsorsium mobil listrik yang melibatkan perguruan tinggi, yakni Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gadjah Mada, Universitas Sebelas Maret, dan Institut Teknologi Sepuluh November dengan didukung perguruan tinggi lainnya.

AYO BACA : Tesla Berencana Produksi Mobil Amfibi

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar