Mahasiswa Untidar Ciptakan Algapatis untuk Membantu Petani

  Minggu, 23 Juni 2019   Rahim Asyik
Tim mahasiswa Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah, bersama dengan Algapatis, alat untuk membantu petani yang diciptakannya. (untidar.ac.id)***

Tim Mahasiswa Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah menciptakan Algapatis yang bisa membuat pertanian lebih murah, mudah, dan cepat.

MAGELANG, AYOSURABAYA.COM—Tim mahasiswa Universitas Tidar, Magelang, Jawa Tengah, berhasil menciptakan alat yang diberi nama Algapatis untuk membantu petani.

Algapatis merupakan kependekan dari “alat penyiang gulma dan pemupuk padi otomatis”. Sesuai namanya, alat ini bisa menjalankan dua fungsi sekaligus saat dioperasikan.

“Sekali kerja, petani dapat menyiangi gulma sekaligus memberikan pupuk untuk tanaman padinya," kata Ketua Tim Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PMKT) Untidar Magelang Feri Irawan dalam keterangan tertulis yang diterima Antara di Magelang, Minggu (23/6/2019). Keterangan yang sama bisa diperoleh di sini.

Feri adalah ketua tim pencipta Algapatis. Tim ini beranggotakan Zainab Luxfi’I, Samsul Hidayat, Erics Kharisma, dan Ryantika Dyah Safitri (anggota).

AYO BACA : Keunggulan Padi Ratun, Sekali Tanam Bisa Lima Kali Panen

Menurut Feri, selain hama, gulma juga "pengganggu" tanaman padi. Gulma menyerap nutrisi yang dibutuhkan dalam pertumbuhan tanaman tersebut. Petani biasanya mengatasi gulma dengan cara manual, yakni dengan mencabut dan membenamkan gulmanya ke dalam tanah.

Tim mendapatkan ide menciptakan Algapatis setelah melihat petani padi di Desa Ketro, Kecamatan Kebonagung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur.

Dengan menggunakan Algapatis, kata Feri, petani bisa menghemat tenaga, waktu, dan biaya. Mereka hanya perlu mendorong Algapatis melewati daerah yang ditumbuhi gulma.

Dijelaskan Feri, Algapatis memanfaatkan gaya tekan saat roda berputar dan gaya berat yang diberikan rangka alat serta pupuk di dalam bak penampung.

AYO BACA : 3 Mahasiswa UMK Ciptakan Tempat Sampah Berbasis IoT

Ketika alat ini didorong, kata Feri, mata besi yang terdapat di roda akan mencabut dan membenamkan gulma di sekitar padi.

Bersamaan dengan itu, katanya, knock di bodi roda akan mengungkit tuas yang dihubungkan dengan pintu saluran pupuk. Ketika pintu itu terbuka, pupuk akan jatuh tidak jauh dari tanaman padi. Pemasangan knock disesuaikan dengan jarak tanam padi.

"Gaya tekan dari putaran roda mencabut dan membenamkan gulma, sedangkan gaya knock yang dipasang di roda menjatuhkan pupuk ke dekat tanaman," katanya.

Dibandingkan dengan alat pertanian konvensional, Algapatis lebih efisien lantaran dapat menjalankan dua fungsi sekaligus dalam satu waktu.

Untuk lahan sekitar 500 meter persegi, katanya, pembasmian gulma secara manual dapat menghabiskan waktu sampai 3 hari dengan lama kerja sekitar 8 jam per hari. Sementara dengan Algapatis hanya butuh sehari.

Dari sisi biaya, kalau manual bisa habis total sekitar Rp150.000. "Biaya itu belum termasuk keperluan tambahan lain. Tentu jumlah itu tidaklah murah bagi para petani. Apalagi jika harga jual padi per kilonya hanya Rp1.500 sampai Rp2.000," ujar dia.

AYO BACA : Banoo, Pendongkrak Nafsu Makan Ikan Temuan 5 Mahasiswa UGM

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon
   Komentar

Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab pribadi seperti diatur dalam UU ITE

Komentar